

Mencari laptop murah pada 2026 bukan lagi sekadar mencari prosesor paling baru dengan harga paling rendah. Calon pembeli sekarang juga mulai memperhatikan kapasitas RAM, SSD, kualitas layar, daya tahan baterai, konektivitas, hingga kemampuan perangkat untuk menjalankan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI). Masalahnya, semakin banyak fitur yang dibutuhkan, semakin sulit menemukan laptop terjangkau yang tidak terasa “pas-pasan”.
Intel mencoba mengambil peluang tersebut melalui Intel Core Series 3, keluarga prosesor yang sebelumnya dikenal dengan kode nama Wildcat Lake. Diluncurkan pada April 2026, prosesor ini memang dirancang untuk segmen value, termasuk pelajar, bisnis kecil, perangkat komersial, dan kebutuhan komputasi sehari-hari. Intel juga membawa arsitektur Intel 18A, NPU untuk akselerasi AI, Wi-Fi 7, Bluetooth 6, serta dukungan Thunderbolt 4 ke platform tersebut. (Intel Newsroom, 2026)
Namun, ada satu pertanyaan yang lebih penting bagi calon pembeli laptop: apakah kehadiran Core Series 3 benar-benar membuat laptop murah menjadi lebih menarik, atau hanya mengganti nama prosesor tanpa menghilangkan kompromi yang selama ini ada di kelas terjangkau?
Core Series 3 Bawa Teknologi Baru ke Kelas Value
Intel Core Series 3 hadir dengan beberapa varian, mulai dari Core 3 304 dan 305, Core 5 315, 320, 330, hingga Core 7 350 dan 360. Model-model tersebut menggunakan konfigurasi hingga enam inti, sementara Core 7 350 dan 360 dapat mencapai boost clock 4,8 GHz. Intel juga mencantumkan NPU hingga 17 TOPS pada varian tertentu untuk membantu menangani beban kerja AI secara lebih efisien.
Yang membuat platform ini menarik bukan hanya performa prosesornya. Intel mencoba memasukkan fitur yang biasanya lebih mudah ditemukan pada laptop kelas menengah ke atas, seperti Wi-Fi 7, Bluetooth 6, Thunderbolt 4, NPU, dan GPU terintegrasi berbasis Xe. Dalam presentasinya di Computex 2026, Intel juga menunjukkan laptop tipis berbasis Core Series 3 yang ditujukan untuk produktivitas dan penggunaan harian dengan daya tahan baterai hingga 20 jam pada konfigurasi tertentu. (Intel Newsroom, 2026)
Artinya, strategi Intel bukan sekadar membuat CPU murah. Targetnya adalah membuat platform laptop yang tetap terasa modern meskipun ditempatkan di segmen harga yang lebih terjangkau.
Acer, ASUS, Lenovo hingga Dell Mulai Menggunakannya
Core Series 3 juga tidak dibuat untuk satu merek laptop saja. Intel menyebut lebih dari 70 desain laptop dari berbagai produsen akan menggunakan prosesor tersebut sepanjang 2026. Daftarnya mencakup Acer Aspire Go, ASUS Vivobook dan ExpertBook, Honor MagicBook X14/X15, Lenovo, HP, MSI, serta berbagai perangkat dari produsen lainnya. (Intel Newsroom, 2026)
Perkembangannya bahkan sudah masuk ke laptop yang lebih dikenal konsumen. Dell XPS 13, Acer Swift Air 14, Lenovo IdeaPad Slim 3i, dan Chuwi UniBook menjadi beberapa contoh perangkat yang menggunakan keluarga Core Series 3 atau Wildcat Lake. Tom’s Hardware pada Agustus 2026 bahkan menilai platform ini menarik karena mulai menghidupkan persaingan laptop Windows terjangkau, terutama setelah munculnya MacBook Neo. (Tom's Hardware, 2026)
Hal ini penting karena Core Series 3 pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan CPU. Produsen laptop yang menentukan bagaimana prosesor tersebut dikombinasikan dengan RAM, SSD, layar, baterai, pendinginan, dan fitur lainnya.
Laptop Core Series 3 Sudah Masuk Indonesia, tapi Belum Rp10 Jutaan
Untuk calon pembeli Indonesia, perkembangan paling relevan datang dari Lenovo IdeaPad Slim 3i 14IWC11. Laptop tersebut menjadi perangkat pertama yang menggunakan Intel Core Series 3 di pasar Indonesia dan mulai tersedia pada Agustus 2026 dengan harga Rp11.799.000. Varian yang lebih tinggi mencapai Rp 17.299.000. (Gadgetren, 2026)
Menariknya, harga tersebut memperlihatkan bahwa Core Series 3 belum otomatis berarti laptop di bawah Rp10 juta. Bahkan varian termurah IdeaPad Slim 3i menggunakan Core 3 304 dan RAM 8 GB, sementara konfigurasi Core 5 dan Core 7 berada di harga yang lebih tinggi. Beberapa varian Core 5 dan Core 7 juga menawarkan RAM yang dapat ditingkatkan hingga 32 GB DDR5, sehingga laptop dapat mengikuti kebutuhan pengguna ketika tuntutan pekerjaan bertambah.
Bagi mahasiswa atau pekerja yang menggunakan laptop selama beberapa tahun, kemampuan upgrade ini justru menjadi nilai penting. Laptop tidak hanya dinilai dari seberapa kencang ketika baru dibeli, tetapi juga seberapa mudah mempertahankan kenyamanan penggunaan ketika kebutuhan meningkat.
Core Series 3 Mulai Menjadi Alternatif MacBook Neo
Persaingan semakin menarik setelah Apple memperkenalkan MacBook Neo pada Maret 2026. Laptop tersebut menggunakan chip A18 Pro, layar Liquid Retina 13 inci dengan resolusi 2408 × 1506 dan kecerahan hingga 500 nit, serta baterai hingga 16 jam. Apple juga menawarkan RAM 8 GB dan SSD 256 GB atau 512 GB pada konfigurasi resminya. (Apple, 2026)
Di sisi Windows, Dell XPS 13 2026 menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana Core Series 3 diposisikan untuk menantang laptop terjangkau Apple. Tom’s Guide menilai XPS 13 dengan Wildcat Lake menarik karena menawarkan desain premium, layar 2,5K, bobot sekitar 2,2 pon, dan daya tahan baterai sekitar 14,5 jam dalam pengujian mereka. Harganya di Amerika Serikat juga mulai dari sekitar US$699. (Tom's Guide, 2026)
Acer Swift Air 14 berada di jalur yang sama dengan Core 5 320. Windows Central membandingkannya dengan XPS 13 sebagai bagian dari kategori laptop Windows “terjangkau tetapi premium”, dengan Acer menawarkan layar 14 inci, baterai 70 Wh, serta pilihan port yang lebih lengkap. (Windows Central, 2026)
Jadi, persaingannya bukan sekadar Intel versus Apple, melainkan semakin banyak laptop Windows yang mencoba menawarkan pengalaman lebih premium tanpa masuk ke harga laptop kelas atas.
Prosesor Baru Tidak Otomatis Membuat Laptop Murah Jadi Bagus
Di sinilah calon pembeli perlu lebih kritis.
Contohnya adalah Chuwi UniBook yang menggunakan Core 3 304. Dengan harga sekitar US$449, laptop ini memang terlihat menarik karena membawa bodi aluminium, layar 14 inci, banyak port, dan baterai yang sangat baik. TechRadar mencatat daya tahan baterainya dapat menembus lebih dari 20 jam dalam pengujian tertentu. (TechRadar, 2026)
Namun, konfigurasi RAM 8 GB yang tidak dapat di-upgrade menjadi salah satu kelemahannya. TechRadar menemukan kapasitas tersebut cepat terpakai ketika Windows 11 digunakan untuk multitasking. The Verge bahkan menilai performanya dapat terasa lambat ketika menjalankan beberapa aplikasi sekaligus, sementara kualitas layar dan beberapa komponen lainnya juga masih menunjukkan kompromi khas laptop murah. (TechRadar, 2026)
Ini menjadi pelajaran penting bagi pemburu laptop murah: prosesor generasi baru tidak cukup jika komponen lain terlalu ditekan.
Laptop dengan Core Series 3 dan RAM 16 GB tentu berpotensi memberikan pengalaman berbeda dari laptop yang hanya memiliki RAM 8 GB. Begitu juga SSD 512 GB akan jauh lebih leluasa untuk pengguna dibanding kapasitas 256 GB jika laptop dipakai menyimpan dokumen kuliah, aplikasi, foto, dan berbagai file kerja.
Jadi, Apakah Core Series 3 Cocok untuk Budget di Bawah Rp10 Juta?
Potensinya ada, tetapi saat ini belum bisa disebut sebagai jawaban langsung untuk laptop di bawah Rp 10 juta di Indonesia. Perangkat Core Series 3 pertama yang resmi masuk pasar Indonesia justru dimulai dari Rp11,799 juta. Namun, perkembangan laptop seperti Chuwi UniBook, Dell XPS 13, Acer Swift Air 14, serta berbagai desain yang sedang disiapkan produsen menunjukkan bahwa Intel memang sedang mendorong platform ini ke rentang laptop yang lebih terjangkau. (Gadgetren, 2026)
Untuk pembeli dengan budget Rp 5–7 juta, jangan terburu-buru mengejar nama prosesor. Prioritaskan konfigurasi keseluruhan yang paling seimbang, terutama RAM, SSD, layar, baterai, dan garansi. Sementara untuk budget Rp 7–10 juta, standar yang lebih masuk akal adalah mencari laptop dengan RAM 16 GB jika tersedia, SSD 512 GB, layar yang nyaman, serta konektivitas dan kemampuan upgrade yang memadai.
Jika nantinya semakin banyak laptop Core Series 3 masuk ke rentang tersebut, platform ini akan menjadi semakin menarik karena pembeli tidak harus memilih antara harga murah atau teknologi yang relatif baru.
Siapa yang Paling Cocok Menggunakan Laptop Core Series 3?
Karakter Core Series 3 paling sesuai untuk mahasiswa, pelajar, pekerja kantoran, pengguna rumahan, pelaku UMKM, dan pembeli laptop pertama yang membutuhkan perangkat untuk pekerjaan sehari-hari. Microsoft Office, spreadsheet, presentasi, browsing dengan banyak tab, rapat daring, administrasi bisnis, konsumsi multimedia, hingga pekerjaan kreatif ringan berada dalam area penggunaan yang masuk akal untuk platform ini. Intel sendiri memang menyebut sekolah, bisnis kecil, dan value buyers sebagai target utama Core Series 3. (Intel Newsroom, 2026)
Untuk mahasiswa, kombinasi laptop yang ringan, baterai panjang, RAM yang bisa ditingkatkan, dan konektivitas modern dapat terasa lebih berguna daripada sekadar mengejar angka performa tinggi. Pekerja kantoran juga dapat memperoleh manfaat serupa ketika laptop digunakan berpindah antara rumah, kantor, dan ruang rapat. Sementara pelaku UMKM dapat memanfaatkan perangkat untuk administrasi, spreadsheet, marketplace, komunikasi pelanggan, dan pengelolaan bisnis tanpa harus membeli laptop kelas profesional.
Sebaliknya, gaming AAA, rendering 3D, editing video berat, dan pekerjaan yang sangat bergantung pada GPU khusus bukanlah target utama Core Series 3. Platform ini lebih menarik ketika yang dicari adalah keseimbangan antara performa harian, efisiensi, mobilitas, konektivitas, dan fitur AI.
Laptop Murah Makin Canggih, tetapi Tetap Harus Pintar Memilih
Intel Core Series 3 menunjukkan bahwa laptop kelas value mulai bergerak ke arah yang berbeda. Prosesor yang ditujukan untuk perangkat terjangkau kini tidak harus identik dengan teknologi lama. NPU, Wi-Fi 7, Bluetooth 6, Thunderbolt 4, dan arsitektur Intel 18A menunjukkan bahwa produsen sudah memiliki fondasi untuk membuat laptop yang lebih modern di kelas mainstream. (Intel Newsroom, 2026)
Namun, perkembangan ini juga membuat calon pembeli perlu semakin teliti. Laptop murah yang benar-benar worth it bukan yang memiliki nama prosesor paling baru, melainkan yang konfigurasi keseluruhannya sesuai kebutuhan. Contoh Chuwi menunjukkan bagaimana CPU baru dapat kehilangan daya tarik ketika RAM dan komponen lain terlalu dibatasi, sementara laptop seperti Dell XPS 13 dan Lenovo IdeaPad Slim 3i memperlihatkan bahwa platform yang sama dapat dikemas menjadi perangkat dengan pengalaman yang jauh berbeda. (The Verge, 2026)
Jadi, kalau kamu sedang mencari laptop dengan budget terbatas, Core Series 3 layak dipantau, tetapi tidak perlu terburu-buru membeli hanya karena embel-embel generasi baru. Bandingkan RAM, SSD, layar, baterai, port, kemampuan upgrade, garansi, dan tentu saja harga akhirnya. Dengan begitu, budget yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan laptop yang nyaman digunakan, bukan sekadar laptop dengan prosesor terbaru.
Sedang mencari laptop untuk kuliah, kerja, bisnis, atau kebutuhan harian dengan budget tertentu? Hubungi sales Pegastore.ID untuk mendapatkan rekomendasi dan perbandingan laptop berdasarkan kebutuhan serta anggaranmu. Dengan pilihan yang tepat, laptop terjangkau tetap bisa menjadi perangkat produktif untuk beberapa tahun ke depan.
.png)
Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:
Instagram: pegastore.id/instagram
Tiktok : pegastore.id/tiktok
Whatsapp : pegastore.id/whatsapp
Whatsapp Service : pegastore.id/service
Harga SSD Naik, Jangan Tergiur Storage Murah! Modus SSD Palsu Makin Canggih
ASUS ROG Edition 20 Masuk Indonesia, Hadirkan PC Flagship hingga Mini PC 3 Liter
Windows 11 Bakal Lebih Aman, Tapi Bisa Pengaruhi Performa Gaming? Ini Penjelasannya
ASUS Rilis ProArt P14 & P16 dengan RTX Spark, Kapan Masuk ke Indonesia?
Game Marvel's Iron Man EA Makin Terlihat, Ini Laptop yang Bisa Disiapkan dari Sekarang
Tak Perlu Flashdisk, Windows 11 Kini Bisa Diinstal Ulang Langsung dari Cloud