

Harga RAM kembali menjadi perhatian setelah sejumlah modul DDR5 dilaporkan mengalami lonjakan harga hingga hampir 500% dalam satu tahun. Tom’s Hardware mencatat, misalnya, kit DDR5-6000 32GB yang sebelumnya berada di kisaran US$222 kini mencapai sekitar US$1.272. Untuk kapasitas 128GB DDR5-6400, harganya bahkan tercatat sekitar US$3.399, hampir sepuluh kali lipat dari harga terendah yang pernah dicatat. Namun, angka 500% tersebut bukan berarti semua RAM mengalami kenaikan sebesar itu, karena perubahannya berbeda berdasarkan kapasitas dan jenis memori (Tom's Hardware, 2026)
Kenaikan ini tidak datang tanpa alasan. Ledakan kebutuhan infrastruktur AI menjadi salah satu pendorong utama ketatnya pasar memori global. Data center yang menjalankan layanan AI membutuhkan memori dalam jumlah besar, sementara produsen DRAM mengalihkan sebagian kapasitas produksinya ke kebutuhan server dan aplikasi AI. TrendForce menyebut realokasi kapasitas tersebut ikut mengurangi pasokan DRAM untuk PC konsumen. Harga kontrak DRAM konvensional bahkan diproyeksikan masih naik 13–18% secara kuartalan pada kuartal III 2026 (TrendForce, 2026)
Ketika AI Makin Dekat dengan Aktivitas Sehari-hari
Dampaknya menarik karena AI justru semakin dibutuhkan oleh masyarakat ketika komponen memori sedang mengalami tekanan harga. Di Indonesia, 69% pekerja yang disurvei PwC pada Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 mengatakan telah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam satu tahun terakhir. Sebanyak 16% bahkan menggunakannya setiap hari, dan 96% pengguna harian di Indonesia melaporkan adanya peningkatan produktivitas. Survei tersebut dipublikasikan pada Februari 2026 dan melibatkan 812 responden Indonesia. (PwC, 2026)
Kebutuhan perangkat komputasi juga semakin dekat dengan dunia pendidikan. Pemerintah meluncurkan Program Digitalisasi Pembelajaran untuk Indonesia Cerdas pada November 2025, yang melibatkan sekolah dari 38 provinsi sebagai bagian dari upaya memperluas pembelajaran digital. Artinya, laptop semakin sulit dipandang hanya sebagai perangkat untuk mengetik dokumen. Bagi pelajar, mahasiswa, hingga pekerja, satu perangkat bisa digunakan untuk membuka browser, mengerjakan dokumen, mengikuti pertemuan daring, mengakses penyimpanan cloud, hingga memanfaatkan AI dalam waktu yang sama (Kementerian Komunikasi dan Digital, 2025)
Masalahnya Bukan Sekadar RAM 8GB atau 16GB
Di sinilah pengguna laptop perlu melihat kebutuhan secara lebih realistis. RAM berfungsi sebagai ruang kerja sementara bagi aplikasi dan data yang sedang digunakan. Semakin besar kapasitasnya, semakin banyak aktivitas yang dapat dijalankan secara bersamaan sebelum performa mulai terganggu. Microsoft menjelaskan pada panduan Windows terbarunya bahwa 8GB dapat menjadi pilihan untuk penggunaan jangka panjang, sementara kebutuhan seperti pengeditan foto dan video atau pekerjaan berperforma tinggi dapat lebih cocok dengan 16GB atau lebih (Microsoft Support, 2026)
Bayangkan mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Dalam satu sesi, ia bisa membuka belasan tab jurnal, Microsoft Word, PDF, Excel atau software statistik, Google Drive, WhatsApp Web, serta layanan AI untuk membantu mencari ide atau memahami materi. Karyawan menghadapi pola serupa ketika browser, spreadsheet, presentasi, aplikasi komunikasi, sistem perusahaan, dan AI berjalan bersamaan. Yang membuat laptop kewalahan bukan selalu satu aplikasi yang berat, tetapi akumulasi banyak aktivitas yang berjalan sekaligus.
Kapan Laptop Mulai Menunjukkan Tanda Harus Di-upgrade?
Tidak perlu langsung mengganti laptop hanya karena RAM sedang mahal. Waktu upgrade lebih tepat ditentukan dari kondisi perangkat dan perubahan kebutuhan. Microsoft menyarankan pengguna memeriksa penggunaan CPU, memori, dan disk melalui Task Manager untuk menemukan komponen yang menjadi sumber masalah. Jika penggunaan memori terus tinggi, aplikasi membutuhkan waktu lebih lama untuk dibuka, atau laptop mulai kesulitan menjalankan beberapa aplikasi sekaligus, perangkat tersebut layak dievaluasi kembali (Microsoft Support, 2026)
Pertimbangkan upgrade laptop ketika masalahnya sudah lebih luas daripada sekadar RAM. Jika laptop sudah tidak mendukung kebutuhan aplikasi terbaru, baterai menurun, penyimpanan mulai sempit, kipas sering bekerja keras, performa menurun saat membuka beberapa aplikasi, dan RAM tidak dapat ditambah, membeli perangkat baru bisa lebih masuk akal daripada terus mengeluarkan biaya untuk perbaikan satu per satu. Microsoft juga memasukkan penggunaan CPU, memori, atau disk yang konsisten tinggi serta penurunan kemampuan menjalankan tugas umum sebagai tanda bahwa pengguna mungkin sudah waktunya mempertimbangkan PC baru (Microsoft Support, 2026)
Jangan Lupa Memeriksa Kemampuan Upgrade Sebelum Membeli
Kondisi ini membuat kemampuan upgrade menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan ketika memilih laptop baru. Dua laptop sama-sama memiliki RAM 16GB, tetapi belum tentu mempunyai peluang peningkatan yang sama di masa depan. Contohnya, Infinix INBook Air Pro+ XL434-i5 membawa 16GB LPDDR4X onboard dan tercatat non-upgradable. Artinya, pengguna harus mempertimbangkan kapasitas tersebut sejak awal.
Sebaliknya, HP OmniBook 3 NG AI PC 14-hs0022TU menawarkan 16GB DDR5 dengan satu slot SODIMM yang masih dapat di-upgrade. Laptop ini juga menggunakan Intel Core Ultra 5 325 dan Intel AI Boost NPU, sehingga lebih menarik untuk pengguna yang ingin mempertimbangkan kebutuhan AI sekaligus memiliki ruang peningkatan memori di kemudian hari. Jadi, angka “16GB” saja belum cukup untuk menentukan pilihan.
Dua Laptop yang Menarik untuk Pelajar hingga Karyawan
Untuk pengguna yang membutuhkan laptop baru tetapi tetap ingin mobilitas tinggi, Infinix INBook Air Pro+ XL434-i5 menjadi salah satu opsi menarik di katalog Pegastore. Konfigurasinya terdiri dari Intel Core i5-1334U, 16GB LPDDR4X, SSD 512GB, layar OLED 14 inci 2.8K 120Hz, dan bobot hanya 1 kg. Model ini tercantum seharga Rp. 10.699.000 per Agustus 2026. Kombinasi Core i5, RAM 16GB, bobot sekitar 1,1 kg, serta layar OLED 2.8K 120Hz membuatnya nyaman untuk aktivitas produktivitas dan multitasking. Kekurangannya, RAM memang tidak dapat di-upgrade sehingga kapasitas 16GB tersebut perlu dipertimbangkan sejak awal.
Sementara itu, HP OmniBook 3 NG AI PC 14-hs0022TU lebih menarik bagi pengguna yang ingin perangkat dengan orientasi AI dan opsi peningkatan memori. Katalog Pegastore.ID per Agustus 2026 mencantumkan Intel Core Ultra 5 325, 16GB DDR5, SSD 512GB, Intel AI Boost NPU, layar 14 inci FHD IPS, serta satu slot SODIMM yang dapat di-upgrade dengan harga Rp. 15.499.000.
Jadi, Kapan Waktu Upgrade Laptop yang Tepat?
Kalau laptop masih lancar, tidak perlu ikut panik karena harga RAM. Namun, jika perangkat mulai kewalahan menjalankan aktivitas belajar atau pekerjaan sehari-hari, RAM sering berada di penggunaan tinggi, kebutuhan sudah berkembang, dan kemampuan upgrade perangkat terbatas, saat itulah laptop baru mulai masuk akal. Untuk pembelian baru, jangan hanya mengejar prosesor terbaru atau RAM terbesar. Perhatikan kapasitas RAM, kemampuan upgrade, SSD, efisiensi perangkat, fitur AI, serta berapa lama laptop tersebut akan digunakan.
Pada akhirnya, laptop yang tepat bukan yang spesifikasinya paling tinggi, melainkan yang tidak cepat menjadi penghambat aktivitas penggunanya. Di tengah penggunaan AI yang semakin umum dan kondisi harga memori yang belum sepenuhnya kembali normal, membeli laptop dengan konfigurasi yang sudah sesuai kebutuhan sejak awal dapat menjadi strategi yang lebih masuk akal daripada menunggu perangkat lama benar-benar kewalahan.
Jika tertarik dengan Infinix INBook Air Pro+ XL434-i5 atau HP OmniBook 3 NG AI PC 14-hs0022TU, pembaca dapat menghubungi sales Pegastore.ID untuk mengecek ketersediaan unit dan mendapatkan rekomendasi laptop sesuai kebutuhan serta anggaran.
.png)
Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:
Instagram: pegastore.id/instagram
Tiktok : pegastore.id/tiktok
Whatsapp : pegastore.id/whatsapp
Whatsapp Service : pegastore.id/service
Lenovo Legion Dipakai di Esports World Cup 2026, Ini Perangkat yang Digunakan Saat Pertandingan
Xiaomi XRing O3 Makin Serius, Performa Flagship Mulai Tantang Apple A19 Pro
GPU Modern Makin Pintar Mengatur Performa, Masih Perlukah Overclock di 2026?
ASUS Pamer Router Gaming Wi-Fi 8 Pertama di Dunia pada Event Gamescom 2026
Mau Laptop Dipakai Bertahun-Tahun? Ini 5 Pilihan yang Layak Dipertimbangkan
AI Makin Haus Listrik, Kenapa Data Center Mulai Melirik 800 VDC? Ini Temuan Terbaru Schneider Electric