Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
Hai, !
Keranjang
Keranjang
0
Riwayat Riwayat Riwayat Transaksi Profil Profil Saya Wishlist Wishlist Wishlist Logout
Hai, Pengguna!
Masuk atau Daftar
Menu
Kategori
Home Tentang Kami FAQ Price List Service Center Pegacare+ Artikel Karir
Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
!MERCHANDISE!MESIN KASIRPEGA 3D FIGURINEPEGACARE+
Tech News

AI Makin Haus Listrik, Kenapa Data Center Mulai Melirik 800 VDC? Ini Temuan Terbaru Schneider Electric

02-09-2026
AI Makin Haus Listrik, Kenapa Data Center Mulai Melirik 800 VDC? Ini Temuan Terbaru Schneider Electric

Selama ini perkembangan artificial intelligence (AI) lebih sering dibicarakan dari sisi chip, GPU, model bahasa, atau seberapa cepat sebuah layanan bisa menghasilkan jawaban. Namun, ada persoalan lain yang mulai ikut menentukan masa depan AI: listrik. Semakin besar kemampuan komputasi AI, semakin tinggi pula kebutuhan daya yang harus disediakan untuk menjalankan server dan pusat data. Schneider Electric mencatat kepadatan daya pada rack AI kini bergerak melewati 400 kW dan sebagian desain generasi berikutnya mendekati skala megawatt. Kondisi inilah yang mendorong industri untuk mempertimbangkan arsitektur distribusi daya baru, termasuk 800 VDC. (Schneider Electric, 2025)

AI Ternyata Juga Haus Listrik

Bayangkan satu komputer bekerja keras menjalankan AI. Sekarang kalikan kebutuhan tersebut dengan puluhan GPU dalam satu rack, lalu bayangkan ratusan hingga ribuan rack berada dalam satu fasilitas. Beban listriknya tentu berbeda jauh dari komputer kantor biasa. NVIDIA memperkirakan generasi rack AI berikutnya dapat mencapai 600 kW hingga 1 MW per rack, sehingga persoalan penyediaan daya tidak lagi sekadar memasang lebih banyak kabel dan power supply. Infrastruktur listrik harus dirancang ulang agar mampu membawa daya besar secara efisien tanpa membuat ruang, kabel, dan sistem konversi ikut membengkak. (NVIDIA, 2026)

Apa Sebenarnya 800 VDC dan Kenapa Harus Menggunakannya?

Sederhananya, 800 VDC adalah sistem listrik dengan tegangan 800 volt dan arus searah atau Direct Current (DC). Angka 800 menunjukkan tegangan, sedangkan VDC menunjukkan bahwa listrik tersebut menggunakan arus searah. Teknologi ini bukan berarti semua data center sekarang sudah memakai 800 VDC. Justru, arsitektur tersebut sedang dikembangkan untuk fasilitas AI dengan kebutuhan daya yang sangat tinggi. NVIDIA menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan listrik AC dari fasilitas dikonversi menjadi 800 VDC lebih awal, kemudian disalurkan lebih dekat ke compute rack dengan lebih sedikit tahapan konversi. (NVIDIA, 2026)

Ada alasan fisika yang sederhana. Untuk mengirim daya yang sama, semakin tinggi tegangan, semakin kecil arus yang dibutuhkan. Ketika arus turun, kebutuhan konduktor, ukuran kabel, dan sebagian rugi-rugi distribusi juga dapat ditekan. NVIDIA menyebut arsitektur 800 VDC dapat mengurangi penggunaan tembaga dan ukuran kabel dibandingkan dengan sistem 54 VDC pada rack AI, sekaligus mengurangi jumlah tahapan konversi listrik. Schneider Electric melihat pendekatan ini semakin relevan ketika rack AI melewati 400 kW dan bergerak menuju skala megawatt. (NVIDIA, 2026; Schneider Electric, 2025)

Namun, 800 VDC bukan solusi ajaib yang otomatis membuat data center lebih hemat. Efisiensi akhirnya tetap bergantung pada rancangan keseluruhan, perangkat konversi, distribusi, pendinginan, proteksi, serta cara energi disimpan dan digunakan. Schneider Electric melihat arsitektur power rack atau sidecar sebagai salah satu pendekatan transisi yang memungkinkan fasilitas mengadopsi 800 VDC tanpa harus mengubah seluruh infrastruktur AC yang sudah ada sekaligus. (Schneider Electric, 2025)

Schneider Electric Soroti Risiko Arc Flash

Di sinilah pembahasan 800 VDC menjadi lebih serius. Semakin besar daya yang disalurkan, semakin penting pula sistem perlindungannya. Schneider Electric telah memasukkan analisis arus gangguan dan arc flash dalam proses pemodelan, simulasi, serta pengujian sistem 800 VDC untuk mendukung GPU generasi berikutnya. Dalam konteks kelistrikan, arc flash secara sederhana dapat dibayangkan sebagai pelepasan energi listrik yang menghasilkan panas dan cahaya yang sangat besar ketika terjadi gangguan.

Pada sistem DC, karakteristik gangguannya berbeda dari AC sehingga proteksi, pemutusan arus, grounding, dan prosedur keselamatan perlu dirancang secara khusus. Schneider Electric juga menekankan pentingnya koordinasi proteksi dan grounding, integrasi penyimpanan energi, serta kesiapan operasional ketika 800 VDC mulai diterapkan. (Schneider Electric, 2025)

Artinya, penelitian Schneider Electric tidak menunjukkan bahwa 800 VDC berbahaya dan tidak layak digunakan. Justru, kajian keselamatan diperlukan karena industri sedang bergerak menuju sistem yang mampu menangani daya jauh lebih besar.

NVIDIA Ikut Mendorong Perubahan Ini

Perkembangan tersebut menjelaskan mengapa NVIDIA dan Schneider Electric sering muncul bersamaan dalam pembahasan 800 VDC. NVIDIA mendorong arsitektur daya 800 VDC untuk generasi AI factory berikutnya, sedangkan Schneider Electric mengembangkan infrastruktur pendukung sekaligus menguji aspek efisiensi, proteksi, dan keselamatannya.

Pada Oktober 2025, Schneider Electric menyatakan dukungannya terhadap transisi ke 800 VDC untuk rack berkepadatan tinggi yang dirancang untuk GPU generasi berikutnya dari NVIDIA. NVIDIA sendiri mencantumkan Schneider Electric, ABB, Eaton, Siemens, Vertiv, Texas Instruments, dan berbagai perusahaan lain dalam ekosistem 800 VDC. (Schneider Electric, 2025; NVIDIA, 2026)

Jadi, ini bukan cerita NVIDIA merespons studi Schneider Electric secara langsung. Keduanya lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perubahan besar pada infrastruktur AI: NVIDIA mendorong kebutuhan komputasi dan arsitektur daya baru, sementara perusahaan seperti Schneider Electric bersama mitra industri berusaha membuat sistem tersebut efisien, dapat diskalakan, dan aman.

Indonesia Juga Mulai Merasakan Dampaknya

Persoalan kebutuhan energi untuk data center bukan sesuatu yang sepenuhnya jauh dari Indonesia. PLN mencatat konsumsi listrik sektor bisnis mencapai 60,74 TWh sepanjang 2025, naik 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menyebut pertumbuhan data center sebagai salah satu pendorongnya. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pusat data mulai ikut tercermin dalam kebutuhan energi nasional, meskipun Indonesia belum dapat disebut sudah menerapkan 800 VDC secara luas. (PLN, 2026)

Skalanya juga terlihat dari perkembangan fasilitas digital di Indonesia. Microsoft menjelaskan pada 2026 bahwa Indonesia Central memiliki sistem kelistrikan berlapis, gardu induk tegangan tinggi sendiri, serta kerja sama 10 tahun dengan PLN yang mendukung 200 MW energi terbarukan. Ini menunjukkan bahwa layanan cloud dan AI yang terasa sederhana bagi pengguna sebenarnya berdiri di atas infrastruktur fisik dengan kebutuhan listrik dan sistem cadangan yang kompleks. (Microsoft, 2026)

Lalu, Apa Hubungannya dengan Pengguna PC?

Tentu, laptop atau PC rumahan tidak membutuhkan 800 VDC. Teknologi tersebut ditujukan untuk kebutuhan distribusi daya pada infrastruktur data center berskala besar. Hubungannya dengan pengguna sehari-hari lebih sederhana: perangkat elektronik tetap membutuhkan pasokan daya yang stabil dan perlindungan ketika listrik mengalami gangguan.

Pada PC, misalnya, listrik padam ketika pekerjaan belum tersimpan dapat membuat pengguna kehilangan data atau harus mengulang pekerjaan. Router juga bisa langsung mati sehingga koneksi internet terputus. Untuk perangkat yang digunakan untuk bekerja atau menjalankan aktivitas penting, kondisi tersebut tentu cukup mengganggu.

Karena itu, kebutuhan pengguna rumahan atau kantor bukan mengadopsi 800 VDC, melainkan menggunakan UPS (Uninterruptible Power Supply) sesuai kapasitas perangkat. UPS dapat menyediakan daya baterai sementara ketika sumber listrik utama terganggu, sehingga pengguna memiliki waktu untuk menyimpan pekerjaan dan mematikan perangkat dengan lebih aman.

APC BVX700LUIMS Cocok untuk PC Kerja

Salah satu pilihan yang tersedia di Pegastore adalah APC BVX700LUIMS 700 VA/360 W. Kapasitas 360 watt membuatnya sesuai untuk pengguna dengan kebutuhan seperti PC kantor, monitor, router, atau kombinasi perangkat elektronik dengan total konsumsi daya yang masih berada dalam batas kemampuannya.

Model ini menggunakan teknologi line interactive dengan Automatic Voltage Regulation (AVR), sehingga dapat membantu menjaga tegangan keluaran ketika terjadi kondisi tegangan listrik yang naik atau turun. Dukungan surge protection 273 joule juga memberikan lapisan perlindungan terhadap lonjakan tegangan, sedangkan waktu perpindahan tipikal sekitar 6 ms membantu menjaga perangkat tetap mendapatkan suplai ketika sumber utama terganggu. (APC, 2026)

Dengan harga Rp.799.000 di Pegastore, APC BVX700LUIMS menjadi pilihan yang cukup menarik bagi pengguna yang ingin memberikan perlindungan daya pada perangkat kerja tanpa langsung masuk ke kelas UPS berkapasitas besar. Produk ini juga menawarkan garansi dua tahun, baterai lead-acid 12V, serta port USB yang dapat digunakan untuk mengisi daya perangkat tertentu. Harga dan ketersediaan dapat berubah, sehingga calon pembeli sebaiknya melakukan konfirmasi kepada tim Pegastore sebelum melakukan transaksi.

Siapa Saja yang Menggunakannya?

APC BVX700LUIMS paling relevan untuk pekerja remote, mahasiswa, pengguna PC kantor, pemilik perangkat jaringan, hingga pengguna rumahan yang ingin mengurangi risiko kehilangan pekerjaan akibat listrik padam secara tiba-tiba. Kapasitas 360 watt membuat pengguna tetap perlu menghitung total konsumsi daya perangkat sebelum membeli, terutama jika PC menggunakan GPU kelas tinggi atau beberapa perangkat sekaligus.

Untuk workstation dengan konsumsi daya besar, server, NAS, perangkat jaringan skala bisnis, atau kebutuhan yang mengharuskan perangkat menyala lebih lama ketika listrik padam, kelas UPS yang lebih tinggi akan lebih sesuai.

AI Besar, Infrastruktur Listrik Ikut Berubah

800 VDC sendiri bukan sekadar angka satuan daya. Teknologi ini muncul karena kebutuhan daya AI terus meningkat dan rack komputasi semakin padat. NVIDIA mendorong arsitektur tersebut untuk generasi AI berikutnya, sementara Schneider Electric dan pemain industri lainnya mengembangkan sisi distribusi, efisiensi, proteksi, serta keselamatannya.

Indonesia pun mulai merasakan efek pertumbuhan tersebut melalui meningkatnya kebutuhan listrik data center. Bagi pengguna sehari-hari, pelajarannya jauh lebih sederhana: semakin besar ketergantungan pada perangkat elektronik, semakin penting memastikan perangkat mendapatkan daya yang sesuai dan memiliki perlindungan ketika listrik bermasalah.

Jika sedang mencari UPS untuk PC, perangkat kerja, jaringan, atau kebutuhan lainnya, hubungi sales Pegastore.ID agar dapat disesuaikan dengan konsumsi daya perangkat, kebutuhan penggunaan, dan anggaran yang tersedia.


Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:

Instagram: pegastore.id/instagram 

Tiktok : pegastore.id/tiktok 

Whatsapp : pegastore.id/whatsapp

Whatsapp Service : pegastore.id/service

Artikel Lainnya
Intel Nova Lake Siapkan Core Ultra 400, Apa yang Berubah di Laptop Generasi Berikutnya?Intel Nova Lake Siapkan Core Ultra 400, Apa yang Berubah di Laptop Generasi Berikutnya?Samsung Spatial Signage 85 Inci, Hadirkan Pengalaman Visual 3D Tanpa KacamataSamsung Spatial Signage 85 Inci, Hadirkan Pengalaman Visual 3D Tanpa KacamataHarga GPU Makin Aneh, RTX 5060 Ti 16GB Malah Lebih Mahal dari RTX 5070Harga GPU Makin Aneh, RTX 5060 Ti 16GB Malah Lebih Mahal dari RTX 5070Acer Googlebook 14 Terungkap, Begini Ambisi Acer di Era Laptop GooglebookAcer Googlebook 14 Terungkap, Begini Ambisi Acer di Era Laptop GooglebookSiap Jadi Tablet Serbaguna, HONOR Pad 20 Pro Meluncur dengan Snapdragon 8s Gen 4Siap Jadi Tablet Serbaguna, HONOR Pad 20 Pro Meluncur dengan Snapdragon 8s Gen 4ASUS ProArt PZ14 Buktikan Snapdragon X2 Elite Layak Diperhitungkan di Kelas Laptop PremiumASUS ProArt PZ14 Buktikan Snapdragon X2 Elite Layak Diperhitungkan di Kelas Laptop Premium
Maskot Pegastore
loading
Pegastore icon
Live Chat