Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
Hai, !
Keranjang
Keranjang
0
Riwayat Riwayat Riwayat Transaksi Profil Profil Saya Wishlist Wishlist Wishlist Logout
Hai, Pengguna!
Masuk atau Daftar
Menu
Kategori
Home Tentang Kami FAQ Price List Service Center Pegacare+ Artikel Karir
Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
!MERCHANDISE!MESIN KASIRPEGA 3D FIGURINEPEGACARE+
Tech News

Eka Gustiwana Dilirik Apple, Ini Peran Logic Pro dalam Perjalanan Kreatifnya

24-08-2026
Eka Gustiwana Dilirik Apple, Ini Peran Logic Pro dalam Perjalanan Kreatifnya

Nama Eka Gustiwana kembali mendapat perhatian setelah Apple menampilkannya dalam program Here’s to the Dreamers 2026, yang mengangkat kreator Asia Tenggara dan bagaimana teknologi membantu mereka mengembangkan gagasan menjadi karya. Dalam materi tersebut, Eka ditampilkan sebagai kreator Indonesia dengan perjalanan panjang di dunia musik dan produksi digital, sekaligus pengguna berbagai teknologi dalam proses kreatifnya, termasuk Logic Pro, perangkat lunak produksi musik Apple. (detikINET, 2026; Peradaban, 2026).

Bagi Eka, teknologi memang bukan sesuatu yang baru hadir ketika AI mulai ramai. Ia telah membangun karier selama lebih dari satu dekade sebagai produser musik, komponis, music arranger, dan kreator digital. Profil profesionalnya mencatat bahwa Eka mulai menjalankan Studio Daylight sebagai music production suite sejak 2008 dan kemudian mendirikan PT Kreasi Suara Gustiwana pada 2013. Ia juga pernah menulis serta memproduksi karya untuk sejumlah musisi, termasuk Nikita Willy dan Maudy Ayunda, sebelum semakin dikenal luas melalui eksperimen speech composing di YouTube. (LinkedIn Eka Gustiwana, diperbarui 2026).

Dari Produser Musik hingga Kreator Digital

Perjalanan Eka menarik karena ia tidak tumbuh hanya dari satu jalur musik. Pada awal kariernya, ia bekerja sebagai keyboardist dan pianis, kemudian berkembang menjadi produser dan penulis lagu. Pada 2013, eksperimen speech composing membuat namanya semakin dikenal di internet. Dalam proyek tersebut, potongan percakapan diolah menjadi komposisi musik, memperlihatkan bagaimana kemampuan produksi audio dapat dipadukan dengan medium digital untuk menghasilkan bentuk karya yang berbeda. Profil profesional Eka mencatat proyek speech composing untuk sejumlah tokoh serta pencapaian jutaan penonton di YouTube pada periode tersebut. (LinkedIn Eka Gustiwana, 2026).

Eksperimen tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas Eka sebagai kreator. Ia tidak hanya bekerja di balik layar sebagai produser, tetapi juga membangun karya dan audiens melalui platform digital. Perjalanan itu berlanjut ketika Eka menjadi bagian dari Weird Genius, grup musik elektronik Indonesia yang mempertemukan produksi musik, synthesizer, digital audio workstation, dan budaya internet. Apple Music saat ini juga memperkenalkan Eka sebagai creative electronic music artist yang dikenal melalui YouTube dan merupakan bagian dari Weird Genius. (Apple Music, diperbarui 2025–2026).

Logic Pro, Studio Digital untuk Produksi Musik

Di tengah perjalanan tersebut, Logic Pro menjadi salah satu perangkat lunak yang relevan dengan dunia kerja kreator musik. Logic Pro merupakan digital audio workstation atau DAW yang menyediakan lingkungan untuk merekam, mengedit, mengaransemen, membuat instrumen virtual, menggunakan efek audio, hingga melakukan mixing dan mastering. Karena seluruh proses tersebut dapat dikerjakan dalam satu lingkungan kerja, DAW seperti Logic Pro pada dasarnya berfungsi layaknya studio produksi musik digital.

Perkembangan Logic Pro beberapa tahun terakhir membuat software ini semakin menarik untuk dibahas dalam konteks Eka. Apple mulai memperkenalkan kemampuan berbasis AI secara lebih nyata melalui Logic Pro 11 pada 2024, antara lain lewat Session Players, Stem Splitter, dan ChromaGlow. Session Players memungkinkan pengguna menambahkan pemain virtual untuk bagian tertentu dalam lagu, sedangkan Stem Splitter dapat memisahkan elemen seperti vokal dan instrumen dari rekaman yang sudah ada. Apple menyebut fitur tersebut dirancang untuk membantu proses penciptaan musik sekaligus mempertahankan kendali kreatif di tangan pengguna. (Apple, 2024).

Ketika AI Mulai Membantu Proses Produksi Musik

Perkembangan tersebut berlanjut pada 2025 ketika Apple memperluas kemampuan Logic Pro untuk proses pembuatan musik, termasuk peningkatan Stem Splitter dan fitur Flashback Capture. Fungsinya terasa praktis bagi produser karena sebuah rekaman yang sudah jadi dapat diolah kembali dengan lebih fleksibel, sementara ide permainan audio atau MIDI yang sempat dilakukan sebelum tombol rekam ditekan dapat dipulihkan melalui Flashback Capture. Bagi kreator yang sering bereksperimen, fitur seperti ini dapat mengurangi risiko kehilangan ide hanya karena persoalan teknis dalam proses produksi. (Apple, 2025).

Pada Januari 2026, Apple membawa pendekatan tersebut lebih jauh melalui Apple Creator Studio. Paket ini menggabungkan Logic Pro dengan Final Cut Pro, Pixelmator Pro, Motion, Compressor, dan MainStage. Di Logic Pro, Apple memperkenalkan Synth Player sebagai bagian baru dari AI Session Players. Fitur tersebut dapat menghasilkan permainan synth dan bass yang mengikuti arahan pengguna, sehingga produser dapat mencoba karakter musik tertentu tanpa harus merekam seluruh bagian secara manual. Apple menyebut Synth Player dirancang untuk membantu mengembangkan ide musik ke arah yang berbeda dengan kontrol terhadap tingkat kompleksitas dan intensitas permainan. (Apple, 2026).

Apple juga memperkenalkan Chord ID, yang menggunakan AI untuk menganalisis rekaman audio atau MIDI kemudian mengubahnya menjadi progresi akor yang dapat digunakan di Logic Pro. Fungsinya dapat terasa sederhana, tetapi sangat berguna ketika seorang musisi memiliki rekaman demo dan ingin mengetahui struktur harmoninya tanpa harus mencari akor satu per satu secara manual. Progresi tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengarahkan Session Players sehingga pengguna bisa mencoba beberapa kemungkinan pemain, gaya, dan genre dengan lebih cepat. (Apple, 2026).

Bukan Hanya Membuat Musik, tetapi Mempercepat Eksperimen

Cara kerja tersebut membuat Logic Pro semakin menarik bagi kreator yang senang bereksperimen. Bayangkan seorang produser memiliki rekaman sederhana berisi vokal dan musik yang sudah tercampur. Dengan Stem Splitter, bagian tertentu dari rekaman dapat dipisahkan untuk diolah kembali. Jika sebuah progresi akor ditemukan dari rekaman lama, Chord ID dapat membantu mengenalinya dan memasukkannya ke dalam alur kerja Logic Pro. Setelah itu, Session Players dapat digunakan untuk mencoba berbagai pendekatan aransemen. Kreator tetap menentukan hasil akhirnya, tetapi proses mencoba berbagai kemungkinan dapat berlangsung jauh lebih cepat. (Apple, 2024–2026).

Pendekatan ini juga sesuai dengan perubahan kebutuhan kreator modern. Produksi musik saat ini tidak selalu berlangsung di studio besar dengan banyak perangkat fisik. Seorang produser dapat mengembangkan ide dari laptop, mengolah rekaman, mencari sound, mengatur instrumen virtual, melakukan mixing, lalu menghasilkan materi siap publikasi dari satu perangkat. Logic Pro sendiri terus dikembangkan Apple untuk Mac dan iPad, dengan fitur yang dirancang untuk membantu proses beat making, songwriting, remixing, hingga produksi musik untuk konten video. (Apple, 2026).

Mengapa Perkembangan Ini Relevan dengan Eka Gustiwana?

Di sinilah kisah Eka menjadi menarik untuk dibaca. Rekam jejaknya menunjukkan bahwa eksperimen merupakan bagian dari cara ia berkarya. Dari produksi musik dan jingle, speech composing, konten YouTube, hingga musik elektronik bersama Weird Genius, Eka terus bekerja di persimpangan antara musik, teknologi, dan budaya digital. Apple Music sendiri menggambarkannya sebagai kreator musik elektronik yang lahir dari YouTube dan aktif bersama Weird Genius. (Apple Music, 2025–2026; LinkedIn Eka Gustiwana, 2026).

Karena itu, ketika Apple membawa Eka dalam cerita Here’s to the Dreamers 2026, pembahasannya menjadi lebih luas daripada sekadar perangkat yang digunakan seorang musisi. Kisah Eka memperlihatkan bagaimana seorang kreator dapat memanfaatkan teknologi untuk mengeksplorasi ide, mengubah suara menjadi karya, membangun audiens, dan terus beradaptasi ketika alat kreatif ikut berkembang. Di sisi lain, Logic Pro menunjukkan bagaimana software produksi musik kini bergerak menuju pengalaman yang semakin dibantu AI, tetapi tetap memberi keputusan kreatif kepada manusia.

Laptop Bukan Sekadar Tempat Menjalankan Software

Perkembangan Logic Pro juga membuat kemampuan perangkat keras semakin relevan. Ketika sebuah proyek berisi banyak trek audio, instrumen virtual, efek, plug-in, serta fitur berbasis AI, perangkat harus mampu menangani berbagai proses tersebut secara bersamaan. Logic Pro versi terbaru untuk Mac memanfaatkan Apple silicon, sementara sejumlah fitur modernnya membutuhkan perangkat dengan chip tersebut. (Apple, 2026).

Konsep ini sebenarnya berlaku lebih luas, termasuk bagi pengguna yang tidak bekerja sebagai produser musik. Kreator video membutuhkan perangkat untuk editing dan rendering, desainer membutuhkan kemampuan menjalankan aplikasi grafis secara lancar, sementara pengguna AI sering bekerja dengan banyak aplikasi dan tab sekaligus. Karena itu, RAM yang memadai, SSD berkapasitas lega, prosesor modern, dan kemampuan pemrosesan yang baik menjadi investasi untuk menjaga alur kerja tetap nyaman ketika kebutuhan berkembang.

Teknologi Membuka Ruang Lebih Besar untuk Berkarya

Perjalanan Eka Gustiwana menunjukkan bahwa teknologi dan kreativitas dapat berkembang bersama. Kemampuan membuat musik tetap membutuhkan pengalaman, selera, dan keputusan manusia, sementara teknologi membantu memperluas kemungkinan yang bisa dicoba. Logic Pro kini memperlihatkan arah tersebut melalui fitur AI yang dapat membantu membuat bagian musik, mengenali akor, mencari sound, hingga mengolah rekaman. Tujuannya bukan mengambil alih peran kreator, melainkan membuat lebih banyak ide bisa diuji dalam waktu yang lebih singkat. (Apple, 2026).

Bagi pengguna yang ingin mulai serius membuat musik, video, desain, atau konten digital, perkembangan ini juga menjadi pengingat bahwa memilih perangkat sebaiknya tidak hanya melihat angka spesifikasi. Perangkat yang tepat adalah perangkat yang mampu mengikuti cara kita bekerja hari ini sekaligus memberi ruang ketika kebutuhan kreatif mulai berkembang.

Jika kamu sedang mencari laptop untuk produksi musik, editing, pembuatan konten, maupun kebutuhan kreatif lainnya, hubungi sales Pegastore.ID untuk mendapatkan rekomendasi perangkat yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaranmu.


Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:

Instagram: pegastore.id/instagram 

Tiktok : pegastore.id/tiktok 

Whatsapp : pegastore.id/whatsapp

Whatsapp Service : pegastore.id/service

Artikel Lainnya
Mahal Sedikit, Kencangnya Jauh? Begini Pengaruh TGP pada Laptop GamingMahal Sedikit, Kencangnya Jauh? Begini Pengaruh TGP pada Laptop GamingLaptop Gaming Bukan Lagi Cuma untuk Main Game? Mengenal Lineup Colorful EVOL P15 Sesuai KebutuhanLaptop Gaming Bukan Lagi Cuma untuk Main Game? Mengenal Lineup Colorful EVOL P15 Sesuai KebutuhanOmniBook 3 atau OmniBook 5? Begini Cara Memilih Laptop AI Sesuai KebutuhanOmniBook 3 atau OmniBook 5? Begini Cara Memilih Laptop AI Sesuai KebutuhanBukan TV, Ini Perangkat yang Bikin Nonton Bareng Satu Kampung Terasa Seperti di StadionBukan TV, Ini Perangkat yang Bikin Nonton Bareng Satu Kampung Terasa Seperti di StadionGarmin CIRQA Hadir Tanpa Layar, Kenapa Justru Banyak Pengguna Garmin Menantikannya?Garmin CIRQA Hadir Tanpa Layar, Kenapa Justru Banyak Pengguna Garmin Menantikannya?Laptop RAM 8GB Belum Tersisih, Microsoft Siapkan Windows 11 yang Lebih Ringan. Masih Layak Dibeli?Laptop RAM 8GB Belum Tersisih, Microsoft Siapkan Windows 11 yang Lebih Ringan. Masih Layak Dibeli?
Maskot Pegastore
loading
Pegastore icon
Live Chat