

“Jangan pernah kasih OTP ke siapa pun.” Kalimat ini mungkin sudah sering terdengar. Namun, di tengah maraknya phishing, penyalahgunaan nomor seluler, hingga modus penipuan digital yang semakin meyakinkan, mengaktifkan two-factor authentication (2FA) ternyata belum otomatis membuat akun sepenuhnya aman. Lantas, apa yang sebenarnya perlu diperhatikan?
OTP Bukan Lagi Sekadar Kode Verifikasi
Banyak orang menganggap OTP sebagai benteng terakhir setelah password. Padahal, kode sekali pakai ini juga menjadi target dalam berbagai modus kejahatan digital. Di Indonesia, pemerintah bahkan memasukkan penyalahgunaan OTP, phishing, spam call, dan penggunaan kartu SIM anonim sebagai persoalan yang ingin ditekan melalui kebijakan registrasi biometrik nomor seluler. Mulai 1 Juli 2026, aktivasi nomor seluler baru diwajibkan menggunakan verifikasi wajah yang terhubung dengan data kependudukan. Komdigi menyebut kebijakan tersebut ditujukan untuk mempersempit ruang penyalahgunaan identitas dan nomor seluler dalam penipuan digital.
2FA Tetap Penting, tetapi Tidak Semua Metodenya Sama
Bukan berarti 2FA sudah tidak berguna. Justru, CISA menegaskan bahwa multi-factor authentication (MFA) tetap memberikan lapisan perlindungan tambahan dibandingkan hanya mengandalkan password. Masalahnya, tidak semua metode MFA memberikan tingkat perlindungan yang sama. SMS atau metode yang mengandalkan pengguna memasukkan kode masih dapat menjadi sasaran phishing dan manipulasi sosial. Karena itu, CISA mendorong penggunaan metode yang lebih tahan terhadap phishing, seperti autentikasi berbasis FIDO atau WebAuthn, sembari menegaskan bahwa menggunakan MFA apa pun tetap lebih baik daripada tidak menggunakannya sama sekali.
Masalahnya Kadang Bukan 2FA, tetapi Cara Korban Terjebak
Bayangkan seseorang menerima pesan yang terlihat seperti pemberitahuan dari bank, marketplace, media sosial, atau layanan digital yang biasa digunakan. Pesan tersebut mengarahkan korban ke halaman login palsu. Password kemudian dimasukkan, lalu website meminta kode OTP untuk “verifikasi”. Tanpa sadar, korban justru menyerahkan dua informasi penting sekaligus kepada penipu. Pola seperti ini menjelaskan mengapa phishing tetap berbahaya meskipun akun telah dilengkapi 2FA. CISA sendiri merekomendasikan metode autentikasi yang tahan phishing karena protokol seperti FIDO dapat membantu mencegah kredensial digunakan ketika pengguna diarahkan ke situs palsu.
Indonesia Bahkan Memperketat Registrasi Nomor Seluler
Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran di dunia maya. Pada Juli 2026, Komdigi melaporkan bahwa penerapan registrasi biometrik nomor seluler telah menjangkau lebih dari 10 juta pelanggan. Pemerintah juga mencatat lebih dari 30 ribu aduan terkait penyalahgunaan nomor seluler untuk penipuan, pemerasan, dan berbagai kejahatan digital hingga 16 Juli 2026. Langkah tersebut menunjukkan bahwa nomor telepon yang selama ini digunakan untuk menerima OTP, membuat akun, dan berkomunikasi sudah menjadi bagian penting dari identitas digital seseorang. Bahkan setelah aturan biometrik berjalan, pemerintah masih menemukan upaya penyalahgunaan di tingkat penjual, sehingga pengamanan nomor saja tetap tidak cukup tanpa kebiasaan digital yang aman dari penggunanya.
Jadi, Apa yang Harus Diamankan?
Keamanan digital sebaiknya tidak dipandang sebagai satu kunci untuk satu pintu. Akun membutuhkan autentikasi yang kuat, sedangkan perangkat membutuhkan perlindungan terhadap malware, situs berbahaya, dan pencurian data. CISA merekomendasikan MFA yang lebih tahan phishing untuk mengurangi risiko pengambilalihan akun, sementara perlindungan pada perangkat tetap dibutuhkan karena serangan dapat bermula dari email, website, file, atau aplikasi yang berbahaya. Artinya, menggunakan 2FA atau passkey sebaiknya berjalan berdampingan dengan sistem keamanan perangkat, bukan saling menggantikan.
McAfee untuk Lapisan Tambahan untuk Perangkat yang Aktif Dipakai Online
Di sinilah software keamanan seperti McAfee Total Protection menjadi relevan. Produk yang tersedia di Pegastore bukan ditujukan untuk menggantikan 2FA, melainkan menambah lapisan perlindungan pada perangkat. McAfee menawarkan kombinasi antivirus, web protection, perlindungan dari penipuan, password manager, dan pada paket tertentu fitur seperti Secure VPN. McAfee juga menjelaskan bahwa fitur perlindungan penipuannya dirancang untuk membantu menghadapi pesan palsu, deepfake scam, virus, dan malware. Untuk pengguna yang sehari-hari membuka email, berbelanja online, mengunduh file, dan mengakses banyak akun dari laptop, pendekatan seperti ini lebih masuk akal karena perlindungan bekerja di sisi perangkat dan aktivitas online.
Di Pegastore, McAfee Antivirus Total Protection Lite tercantum dengan durasi 1 tahun untuk 1 perangkat, dilengkapi antivirus security, anti-spam, dan parental control, dengan harga Rp235.000 saat katalog tersebut diperiksa. Produk ini berasal dari salah satu nama besar di industri keamanan digital global, yang dalam pengujian AV-TEST pada Mei–Juni 2026 meraih skor penuh 6/6 untuk perlindungan, performa, dan kemudahan penggunaan. Dengan biaya yang dikeluarkan, McAfee Total Protection Lite bisa menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang membutuhkan lapisan keamanan tambahan untuk satu perangkat, terutama untuk aktivitas seperti browsing, membuka email, mengunduh file, dan bertransaksi online.
Trend Micro Maximum Security untuk Pengguna Multi-Device
Kalau kebutuhan perlindungannya lebih luas, Trend Micro Maximum Security punya pendekatan yang menarik karena dirancang untuk melindungi hingga beberapa perangkat dan mencakup PC, Mac, serta perangkat mobile pada paket yang didukung. Trend Micro menyebut Maximum Security dapat membantu melindungi dari phishing, penipuan online, ransomware, dan ancaman lainnya, sekaligus menyediakan fitur seperti password manager, perlindungan transaksi online, serta perlindungan terhadap website berbahaya. Fitur tersebut membuatnya relevan bagi pengguna yang tidak hanya menggunakan laptop untuk pekerjaan, tetapi juga aktif melakukan transaksi, mengakses email, menyimpan dokumen, dan berpindah antara perangkat.
Di Pegastore, Trend Micro Maximum Security tercantum dengan durasi hingga 1 tahun dan dukungan hingga 2 perangkat, dengan harga Rp229.000. Dengan selisih sekitar Rp6.000 dari McAfee Total Protection Lite yang tercantum Rp235.000, Trend Micro bisa menjadi pertimbangan menarik bagi pengguna yang membutuhkan perlindungan pada lebih dari satu perangkat, terutama ketika aktivitas digital sehari-hari tidak hanya dilakukan dari satu laptop.
Mana yang Lebih Cocok untuk Kebutuhanmu?
Untuk pengguna yang hanya membutuhkan perlindungan tambahan pada satu perangkat dan ingin menjaga biaya tetap terjangkau, McAfee Total Protection Lite lebih mudah diposisikan sebagai pilihan praktis. Sementara itu, pengguna yang memiliki laptop sekaligus perangkat lain dan lebih sering melakukan transaksi online dapat mempertimbangkan Trend Micro Maximum Security, terutama karena dukungan multi-device dan fitur yang secara langsung menyasar phishing, penipuan online, serta ransomware. Namun, keduanya tetap harus ditempatkan sebagai lapisan perlindungan perangkat, bukan pengganti 2FA, passkey, atau kebiasaan tidak membagikan OTP kepada siapa pun.
Keamanan Digital Tidak Berhenti di Kode OTP
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “Apakah saya sudah memakai 2FA?”, tetapi “Seberapa lengkap lapisan keamanan yang saya gunakan?” Password yang kuat, MFA atau passkey, perangkat dengan sistem keamanan yang diperbarui, serta software keamanan dapat saling melengkapi. Ketika pemerintah sendiri sedang memperkuat identitas nomor seluler untuk mengurangi penyalahgunaan OTP dan penipuan digital, pengguna juga perlu mengambil bagian dari sisi perangkatnya sendiri. Tidak ada satu teknologi yang membuat seseorang kebal dari serangan, tetapi semakin banyak lapisan yang bekerja bersama, semakin kecil peluang satu kesalahan berubah menjadi masalah besar.
Tertarik Menambah Perlindungan untuk Laptop atau PC?
McAfee Antivirus Total Protection Lite dan Trend Micro Maximum Security tersedia di Pegastore.ID sebagai pilihan software keamanan untuk menambah perlindungan perangkat dari berbagai ancaman digital. Jika masih bingung menentukan mana yang sesuai dengan jumlah perangkat dan kebutuhan penggunaan sehari-hari, hubungi sales Pegastore.ID untuk mendapatkan rekomendasi produk yang paling sesuai.
.png)
Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:
Instagram: pegastore.id/instagram
Tiktok : pegastore.id/tiktok
Whatsapp : pegastore.id/whatsapp
Whatsapp Service : pegastore.id/service
Bukan TV, Ini Perangkat yang Bikin Nonton Bareng Satu Kampung Terasa Seperti di Stadion
Garmin CIRQA Hadir Tanpa Layar, Kenapa Justru Banyak Pengguna Garmin Menantikannya?
Laptop RAM 8GB Belum Tersisih, Microsoft Siapkan Windows 11 yang Lebih Ringan. Masih Layak Dibeli?
Acer Swift Air 14 AI Resmi Hadir di Indonesia, Laptop AI Tipis yang Siap Temani Produktivitas Seharian
Serangan Siber Berbasis AI Meningkat 56%, Ancaman Baru bagi Pengguna Laptop
Kenapa Smartwatch Kini Fokus pada Kesehatan Preventif? Galaxy Watch Ultra2 Punya Jawabannya