

WhatsApp dikabarkan tengah menyiapkan fitur username yang memungkinkan pengguna berkomunikasi tanpa harus membagikan nomor telepon pribadi. Sekilas, fitur ini terdengar seperti kabar baik bagi mereka yang peduli terhadap privasi digital. Namun di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran baru dari sejumlah pakar keamanan siber hingga regulator di berbagai negara yang menilai fitur ini berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku penipuan digital.
Perdebatan mengenai fitur username WhatsApp semakin ramai setelah sejumlah laporan menyebutkan bahwa pemerintah India meminta Meta memberikan penjelasan lebih rinci terkait implementasi fitur tersebut sebelum diluncurkan secara luas. Di sisi lain, banyak pengguna justru menyambut baik kehadiran fitur ini karena dianggap mampu mengurangi risiko penyebaran nomor telepon pribadi saat berinteraksi dengan orang baru.
Lalu, apakah fitur username WhatsApp benar-benar akan membuat pengguna lebih aman? Atau justru membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber? Berikut penjelasannya.
WhatsApp Siapkan Sistem Username Tanpa Nomor Telepon

Selama bertahun-tahun, identitas pengguna WhatsApp selalu terikat dengan nomor telepon. Siapa pun yang ingin menghubungi seseorang melalui WhatsApp harus mengetahui nomor HP yang digunakan.
Namun, berdasarkan temuan sejumlah pengamat aplikasi dan laporan media teknologi sepanjang 2025–2026, WhatsApp sedang mengembangkan sistem username yang memungkinkan pengguna membuat identitas unik layaknya yang sudah lama digunakan oleh Telegram, Discord, hingga Instagram. Dengan sistem ini, pengguna dapat berbagi akun WhatsApp tanpa perlu mengungkap nomor telepon mereka kepada orang lain.
Tujuan utama fitur ini adalah meningkatkan privasi pengguna. Menurut dokumentasi resmi Meta mengenai pengembangan fitur privasi WhatsApp dan laporan dari sejumlah media teknologi internasional pada 2026, sistem username dirancang agar pengguna memiliki kontrol lebih besar terhadap informasi pribadi yang mereka bagikan kepada orang lain.
Bagi pekerja lepas, pelaku UMKM, penjual daring, hingga mahasiswa yang sering bergabung dalam komunitas baru, fitur ini berpotensi memberikan kenyamanan lebih. Mereka tidak perlu lagi menyebarkan nomor pribadi kepada banyak orang hanya untuk keperluan komunikasi sementara.
Mengapa Banyak Pihak Menyambut Positif Fitur Ini?

Privasi digital menjadi isu yang semakin penting dalam beberapa tahun terakhir. Menurut laporan Data Breach Investigations Report dari Verizon Business (2025), kebocoran data pribadi masih menjadi salah satu faktor utama yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melakukan penipuan, phishing, hingga pencurian identitas.
Nomor telepon termasuk salah satu data yang cukup sensitif. Dalam praktik sehari-hari, nomor HP sering digunakan untuk pendaftaran akun perbankan, layanan dompet digital, akun media sosial, hingga proses verifikasi dua langkah.
Karena itu, banyak pengguna menganggap sistem username dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan. Alih-alih membagikan nomor telepon kepada orang yang baru dikenal, pengguna cukup memberikan username yang bisa diganti atau disesuaikan tanpa memengaruhi akun utama mereka.
Situasi ini mirip dengan yang sudah terjadi di Telegram selama beberapa tahun terakhir. Banyak pengguna memanfaatkan username untuk bergabung dalam komunitas, forum diskusi, hingga transaksi bisnis tanpa harus membagikan nomor pribadi kepada seluruh anggota grup.
Di Balik Manfaatnya, Muncul Kekhawatiran Baru

Meski menawarkan privasi yang lebih baik, tidak semua pihak menyambut fitur ini dengan antusias. Beberapa pakar keamanan siber menilai bahwa sistem username dapat mempermudah praktik impersonation, yaitu tindakan meniru identitas seseorang atau sebuah organisasi untuk menipu korban.
Bayangkan ada akun resmi sebuah perusahaan menggunakan nama "@pegastore". Tidak lama kemudian muncul akun "@pegastore_id", "@pegastore.shop", atau "@pegastore_support". Sekilas, nama-nama tersebut terlihat mirip dan berpotensi membuat pengguna awam terkecoh.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Platform media sosial seperti Instagram, X, Telegram, dan Discord telah lama menghadapi masalah akun palsu yang menggunakan nama hampir identik dengan akun asli.
Menurut laporan dari Europol (2024), teknik penyamaran identitas digital menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan dalam berbagai bentuk penipuan daring karena memanfaatkan kepercayaan korban terhadap nama atau merek tertentu.
Inilah yang menjadi alasan mengapa sejumlah regulator, termasuk pemerintah India, meminta Meta menjelaskan lebih rinci mekanisme keamanan yang akan diterapkan sebelum fitur tersebut diluncurkan secara luas.
Penipu Bisa Memanfaatkan Username untuk Modus Baru

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia sudah cukup akrab dengan berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan bank, perusahaan logistik, marketplace, hingga layanan pelanggan.
Biasanya, pelaku menggunakan foto profil resmi, logo perusahaan, dan nama akun yang terlihat meyakinkan untuk membuat korban percaya.
Jika sistem username diterapkan tanpa pengamanan yang memadai, pelaku berpotensi memiliki lebih banyak ruang untuk membuat akun yang terlihat mirip dengan identitas resmi suatu pihak.
Sebagai contoh, seseorang mungkin menerima pesan dari akun bernama "@bankbca_help" atau "@shopee_customercare". Bagi pengguna yang tidak terbiasa memeriksa detail akun, nama tersebut bisa tampak sah meskipun sebenarnya bukan akun resmi.
Fenomena serupa sudah sering ditemukan pada platform lain. Laporan dari Microsoft Security Blog (2025) menunjukkan bahwa teknik social engineering masih menjadi salah satu metode serangan siber paling efektif karena memanfaatkan faktor psikologis manusia, bukan kelemahan teknologi semata.
Artinya, ancaman terbesar sebenarnya bukan berada pada fitur username itu sendiri, melainkan bagaimana pengguna memverifikasi identitas lawan bicara mereka.
Nomor Telepon Juga Bukan Jaminan Aman

Menariknya, sebagian pakar keamanan berpendapat bahwa menyalahkan fitur username saja tidak sepenuhnya tepat.
Selama ini, nomor telepon juga sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Kebocoran database, praktik jual beli data pribadi, hingga penyebaran nomor telepon tanpa izin telah menjadi masalah yang cukup lama terjadi di berbagai negara.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal keamanan siber arXiv pada 2025 menunjukkan bahwa identitas berbasis nomor telepon pun memiliki berbagai celah yang dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi pengguna secara massal.
Dengan kata lain, baik nomor telepon maupun username sama-sama memiliki kelebihan dan risiko masing-masing.
Nomor telepon memang lebih mudah diverifikasi karena terhubung langsung dengan identitas pengguna. Namun di sisi lain, nomor HP juga mengandung lebih banyak informasi pribadi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang tidak diinginkan.
Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna?

Apabila fitur username benar-benar diluncurkan secara global, ada beberapa kebiasaan yang perlu mulai diterapkan oleh pengguna.
Pertama, jangan langsung percaya pada nama akun yang terlihat resmi. Selalu periksa informasi tambahan yang tersedia dan pastikan akun tersebut benar-benar berasal dari sumber terpercaya.
Kedua, hindari memberikan kode OTP, PIN, kata sandi, maupun data perbankan kepada siapa pun melalui WhatsApp. Hingga saat ini, sebagian besar kasus penipuan digital masih bermula dari permintaan informasi sensitif yang seharusnya tidak dibagikan.
Ketiga, manfaatkan fitur keamanan tambahan seperti two-step verification yang sudah tersedia di WhatsApp. Menurut panduan keamanan resmi dari WhatsApp Help Center (2026), fitur ini dapat membantu mencegah pengambilalihan akun oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Terakhir, biasakan memverifikasi informasi melalui kanal resmi perusahaan apabila menerima pesan yang berkaitan dengan transaksi keuangan, hadiah, atau permintaan data pribadi.
Fitur yang Menjanjikan, tetapi Tetap Butuh Kewaspadaan

Kehadiran username di WhatsApp menunjukkan bahwa privasi digital semakin menjadi perhatian utama perusahaan teknologi. Di satu sisi, pengguna mendapatkan lebih banyak kendali atas informasi pribadi yang mereka bagikan. Di sisi lain, perubahan ini juga membawa tantangan baru dalam hal keamanan dan verifikasi identitas.
Jika Meta mampu menghadirkan sistem perlindungan yang kuat terhadap akun palsu dan penyalahgunaan identitas, fitur ini berpotensi menjadi salah satu pembaruan terbesar WhatsApp dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, seperti banyak teknologi lainnya, keamanan tidak hanya bergantung pada sistem yang dibuat perusahaan, tetapi juga pada kebiasaan pengguna dalam mengenali risiko dan memverifikasi informasi sebelum mempercayainya.
Pada akhirnya, baik menggunakan nomor telepon maupun username, prinsipnya tetap sama: semakin cerdas pengguna dalam menjaga data pribadi, semakin kecil peluang bagi pelaku penipuan untuk mengambil keuntungan dari celah yang ada.
.png)
Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:
Instagram: pegastore.id/instagram
Tiktok : pegastore.id/tiktok
Whatsapp : pegastore.id/whatsapp
Whatsapp Service : pegastore.id/service
Sering Hapus File Besar? Update Windows 11 Ini Layak Ditunggu
Harga MacBook dan iPad Naik, Ternyata AI Jadi Salah Satu Penyebabnya
Kerja dari Kafe sampai Workspace, ASUS Vivobook Go 14 Jadi Laptop Praktis untuk Aktivitas Harian
AI Kini Bisa Mengurus Pembukuan Sendiri? Begini Cara Teknologi Baru Mengubah Dunia Kerja Modern
Masih Ngebet Cari MacBook Air M1? Coba Cek Dulu Laptop Baru di Harga yang Mirip Ini
Mau Beli iPad mini Sekarang atau Tunggu iPad mini 8? Ini Bocoran Fitur dan Pertimbangannya