Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
Hai, !
Keranjang
Keranjang
0
Riwayat Riwayat Riwayat Transaksi Profil Profil Saya Wishlist Wishlist Wishlist Logout
Hai, Pengguna!
Masuk atau Daftar
Menu
Kategori
Home Tentang Kami FAQ Price List Service Center Artikel Karir
Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
!MERCHANDISE!MESIN KASIRPEGA 3D FIGURINEPEGACARE+
Tech News

AI Semakin Pintar, Tapi Kenapa Perusahaan Justru Mencari AI yang Lebih Murah?

13-07-2026
AI Semakin Pintar, Tapi Kenapa Perusahaan Justru Mencari AI yang Lebih Murah?

Beberapa tahun terakhir, persaingan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berfokus pada siapa yang memiliki model paling pintar. Namun pada 2026, arah pembicaraan mulai bergeser. Perusahaan-perusahaan besar kini tidak hanya mempertimbangkan kemampuan AI, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalankannya setiap hari. Pergeseran ini terlihat dari langkah Microsoft yang merilis Copilot Cowork, sebuah sistem AI yang dirancang untuk membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih mandiri, sekaligus mempertimbangkan penggunaan model AI alternatif yang lebih hemat biaya untuk mendukung layanannya. (Microsoft, 2026; Axios, 2026).

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dunia teknologi mulai memasuki fase baru. Jika sebelumnya fokus utama adalah menciptakan AI yang semakin pintar, kini efisiensi menjadi faktor yang tidak kalah penting. Bagi perusahaan, teknologi yang mampu menghasilkan produktivitas tinggi dengan biaya lebih terkendali tentu menjadi pilihan menarik. Pada akhirnya, tujuan bisnis tetap sama, yaitu memberikan hasil terbaik dengan sumber daya yang digunakan secara optimal.

AI Semakin Canggih, Tetapi Biayanya Tidak Murah

Di balik jawaban instan dan kemampuan luar biasa AI generatif, terdapat infrastruktur komputasi yang sangat besar. Setiap permintaan yang dikirim pengguna membutuhkan daya pemrosesan dari ribuan chip AI yang bekerja di pusat data. Menurut laporan dari berbagai analis industri, biaya operasional AI generatif saat ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan teknologi karena penggunaan model yang semakin kompleks membutuhkan energi, perangkat keras, dan kapasitas server yang lebih besar dibandingkan layanan digital konvensional.

Inilah alasan mengapa perusahaan teknologi mulai mengeksplorasi model AI yang lebih efisien. Laporan Axios menyebutkan bahwa Microsoft mempertimbangkan berbagai opsi model AI dengan biaya operasional lebih rendah untuk mendukung layanan Copilot di masa depan. Tujuannya bukan menurunkan kualitas layanan, melainkan mencari keseimbangan antara performa dan efisiensi agar teknologi AI dapat diakses lebih luas oleh pengguna maupun bisnis.

Menariknya, tren serupa juga terlihat di berbagai sektor industri. Banyak perusahaan saat ini tidak selalu memilih solusi paling mahal, tetapi mencari teknologi yang mampu memberikan hasil terbaik sesuai kebutuhan. Konsep ini mirip dengan pemilihan perangkat kerja; sebuah laptop dengan spesifikasi yang seimbang sering kali lebih menguntungkan dibandingkan perangkat mahal yang fiturnya tidak seluruhnya digunakan.

Dari Chatbot Menjadi Rekan Kerja Digital

Peluncuran Copilot Cowork menjadi salah satu gambaran bagaimana AI mulai berkembang dari sekadar alat bantu menjadi mitra kerja digital. Jika sebelumnya pengguna harus memberikan instruksi satu per satu, kini AI dapat membantu menjalankan rangkaian pekerjaan yang saling terhubung, mulai dari merangkum rapat, menyusun dokumen, mencari data pendukung, hingga membantu membuat presentasi.

Perubahan ini sangat relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini. Banyak pekerja kantoran menghabiskan waktu untuk aktivitas administratif yang berulang, seperti menyusun laporan mingguan, membalas email serupa, atau mengelola jadwal rapat. Dengan bantuan AI, tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan lebih cepat sehingga tenaga dan waktu dapat dialihkan ke pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, analisis, dan pengambilan keputusan.

Microsoft menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari era agentic AI, yaitu AI yang mampu menjalankan serangkaian tugas berdasarkan tujuan yang diberikan pengguna. Alih-alih hanya menjawab pertanyaan, AI mulai memahami konteks pekerjaan dan membantu menyelesaikannya secara lebih proaktif. (Microsoft, 2026).

Efisiensi Tidak Selalu Berarti Mengurangi Pekerja

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul ketika membahas AI adalah anggapan bahwa teknologi ini akan menggantikan manusia sepenuhnya. Namun kenyataannya, banyak perusahaan justru menggunakan AI untuk mengurangi pekerjaan repetitif yang selama ini menyita waktu karyawan. Laporan dari World Economic Forum menunjukkan bahwa transformasi digital lebih sering mengubah jenis pekerjaan daripada menghilangkan seluruh profesi. (WEF, 2025).

Di berbagai perusahaan, AI mulai dimanfaatkan untuk membantu tim pemasaran membuat draft konten, mempercepat analisis data penjualan, atau menyusun ringkasan laporan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam. Hasilnya bukan berarti peran manusia hilang, melainkan memungkinkan tim bekerja lebih fokus pada strategi, komunikasi, dan inovasi yang masih sulit digantikan oleh mesin.

Fenomena ini juga terlihat di media sosial profesional seperti LinkedIn. Banyak pekerja kini memanfaatkan AI untuk membantu menyusun email, membuat presentasi, hingga mengolah data awal sebelum dilakukan pengecekan dan penyempurnaan oleh manusia. Praktik tersebut menunjukkan bahwa AI lebih sering berperan sebagai co-worker dibandingkan pengganti pekerja.

Keterampilan Baru yang Semakin Dicari di Era AI

Semakin banyak tugas teknis yang dapat dibantu AI, semakin penting pula keterampilan yang tidak mudah diautomatisasi. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, dan pemahaman konteks bisnis menjadi nilai tambah yang semakin dicari perusahaan. Laporan World Economic Forum bahkan menempatkan analytical thinking dan creative thinking sebagai dua keterampilan terpenting dalam beberapa tahun mendatang.

Hal ini berarti tantangan bagi pekerja saat ini bukan sekadar mempelajari cara menggunakan AI, melainkan memahami bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas. Seseorang yang mampu menggabungkan kemampuan manusia dan teknologi akan memiliki peluang lebih besar dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan salah satunya.

Karena itu, penggunaan AI sebaiknya dipandang sebagai alat pendukung, sama seperti ketika komputer dan internet pertama kali mengubah cara bekerja puluhan tahun lalu. Teknologi akan terus berkembang, tetapi kemampuan manusia untuk memahami kebutuhan pelanggan, membangun hubungan, dan mengambil keputusan tetap menjadi faktor yang tidak tergantikan.

Perangkat Kerja yang Siap AI Mulai Menjadi Investasi Penting

Perubahan cara kerja ini secara tidak langsung juga memengaruhi kebutuhan perangkat yang digunakan sehari-hari. Aplikasi berbasis AI modern membutuhkan respons cepat, kemampuan multitasking yang baik, serta penyimpanan yang mampu mengakses data dalam hitungan detik. Karena itu, laptop dengan prosesor generasi terbaru, RAM yang cukup untuk membuka banyak aplikasi sekaligus, serta SSD berkecepatan tinggi kini semakin relevan bagi mahasiswa, pekerja kantoran, maupun pelaku usaha.

Jika beberapa tahun lalu spesifikasi tersebut dianggap sebagai kebutuhan kalangan profesional tertentu, saat ini kebutuhan tersebut mulai menjadi standar baru. Aktivitas seperti menjalankan aplikasi produktivitas berbasis AI, mengikuti rapat daring sambil membuka dokumen, hingga mengolah data secara bersamaan menuntut perangkat yang lebih responsif dibandingkan sebelumnya. Menariknya, banyak laptop kelas menengah saat ini sudah mampu menawarkan pengalaman tersebut dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibanding perangkat premium beberapa tahun lalu.

Pada akhirnya, perkembangan AI bukan hanya tentang teknologi yang semakin pintar. Tren yang sedang terjadi menunjukkan bahwa dunia kerja bergerak menuju keseimbangan antara kemampuan, produktivitas, dan efisiensi. Perusahaan mencari AI yang lebih hemat biaya, pekerja mencari cara bekerja yang lebih efektif, dan pengguna membutuhkan perangkat yang mampu mengikuti perubahan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, beradaptasi dengan teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari cara untuk tetap relevan di era kerja modern.


Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:

Instagram: pegastore.id/instagram 

Tiktok : pegastore.id/tiktok 

Whatsapp : pegastore.id/whatsapp

Whatsapp Service : pegastore.id/service

Artikel Lainnya
Google Fitbit Air Jadi Tren Wearable Tanpa Layar yang Cocok untuk Gaya Hidup ModernGoogle Fitbit Air Jadi Tren Wearable Tanpa Layar yang Cocok untuk Gaya Hidup ModernHarmonyOS 7 Resmi Meluncur, Bawa AI Lebih Pintar dan Keamanan Digital yang Makin CanggihHarmonyOS 7 Resmi Meluncur, Bawa AI Lebih Pintar dan Keamanan Digital yang Makin CanggihIntel Pamer Teknologi AI di Computex 2026, Laptop dan Gaming Portable Makin CerdasIntel Pamer Teknologi AI di Computex 2026, Laptop dan Gaming Portable Makin CerdasLaptop Gaming untuk Kerja Serius? Ini Alasan MSI Cyborg 15 Relevan Buat Pekerja Digital IndonesiaLaptop Gaming untuk Kerja Serius? Ini Alasan MSI Cyborg 15 Relevan Buat Pekerja Digital IndonesiaMau Nonton Konser ke Jakarta? Powerbank Vention Ini Jadi Barang Wajib di Tas KamuMau Nonton Konser ke Jakarta? Powerbank Vention Ini Jadi Barang Wajib di Tas KamuEra Smartwatch Mulai Bergeser? Smart Ring Mulai Dilirik sebagai Gadget Kesehatan Generasi BaruEra Smartwatch Mulai Bergeser? Smart Ring Mulai Dilirik sebagai Gadget Kesehatan Generasi Baru
Maskot Pegastore
loading
Pegastore icon
Live Chat