Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
Hai, !
Keranjang
Keranjang
0
Riwayat Riwayat Riwayat Transaksi Profil Profil Saya Wishlist Wishlist Wishlist Logout
Hai, Pengguna!
Masuk atau Daftar
Menu
Kategori
Home Tentang Kami FAQ Price List Service Center Artikel Karir
Jl. C. Simanjuntak No. 37, Terban, Kec. Gondokusuman, Kota Yogyakarta
!MERCHANDISE!MESIN KASIRPEGA 3D FIGURINEPEGACARE+
Tech News

Googlebook Diperkenalkan, Laptop Android Berbasis Gemini yang Bisa Jadi Arah Baru AI PC

02-06-2026
Googlebook Diperkenalkan, Laptop Android Berbasis Gemini yang Bisa Jadi Arah Baru AI PC

Google kembali membuat gebrakan di dunia laptop. Setelah lebih dari satu dekade dikenal lewat Chromebook, kini Google memperkenalkan Googlebook, kategori laptop baru yang dirancang khusus untuk era artificial intelligence atau AI. Bukan sekadar laptop untuk membuka browser, Googlebook diposisikan sebagai perangkat yang lebih personal, lebih terhubung dengan HP Android, dan lebih aktif membantu pekerjaan pengguna lewat Gemini.

Google menyebut Googlebook sebagai laptop yang dibangun untuk Gemini Intelligence. Artinya, AI tidak hanya ditempel sebagai fitur tambahan, tetapi menjadi bagian utama dari pengalaman penggunaan laptop. Konsep ini menarik karena selama ini banyak orang memakai laptop, HP, browser, aplikasi chat, email, dan penyimpanan cloud secara terpisah. Googlebook mencoba menyatukan semuanya dalam satu alur kerja yang lebih praktis (Google Blog, 2026)

Bagi pembaca Indonesia, isu ini cukup relevan. Kebanyakan pengguna di Indonesia sudah sangat dekat dengan Android. Data StatCounter menunjukkan Android menguasai sekitar 84,91 persen pasar sistem operasi mobile di Indonesia per Maret 2026. Jadi, ketika Google membawa pengalaman Android lebih dalam ke laptop, konsepnya terasa masuk akal untuk pengguna yang sehari-hari sudah memakai Gmail, Google Drive, Google Docs, Google Meet, Google Photos, Google Calendar, sampai HP Android (StatCounter, 2026)

Bukan Sekadar Chromebook Baru

Googlebook memang sering disebut sebagai “penerus Chromebook”, tetapi sebenarnya narasinya lebih luas dari itu. Chromebook sejak awal dikenal sebagai laptop ringan berbasis ChromeOS yang kuat untuk kebutuhan sekolah, mengetik, browsing, dan kerja berbasis cloud. Googlebook datang dengan pendekatan berbeda: bukan hanya laptop berbasis web, tetapi laptop yang menggabungkan kekuatan Android, ChromeOS, browser Chrome, Google Play, dan Gemini.

Google menjelaskan bahwa Googlebook membawa “yang terbaik dari Android” dan “yang terbaik dari ChromeOS”. Dari sisi Android, pengguna mendapat akses ke aplikasi Google Play dan sistem operasi yang lebih modern untuk AI. Dari sisi ChromeOS, pengguna tetap mendapat pengalaman browser Chrome yang selama ini menjadi pusat produktivitas banyak orang (Google Blog, 2026)

Di sinilah nilai jual Googlebook mulai terlihat. Laptop ini bukan hanya ditujukan untuk orang yang ingin mengetik dokumen atau membuka YouTube, tetapi untuk pengguna yang hidupnya sudah berpindah-pindah antara HP dan laptop. Misalnya, pagi hari membaca email dari HP, siang mengerjakan proposal di laptop, sore membuka file dari Google Drive, lalu malam menyusun agenda di Calendar. Googlebook ingin membuat perpindahan itu terasa lebih mulus.

Android Central melaporkan bahwa Googlebook dirancang agar bisa menjalankan aplikasi Android secara lebih natural dan mengakses file dari HP Android tanpa proses transfer manual yang merepotkan. Ini penting karena salah satu masalah umum pengguna laptop adalah file yang tersebar di banyak perangkat. Foto ada di HP, dokumen ada di laptop, catatan ada di cloud, sementara jadwal ada di email (Android Central, 2026)

Magic Pointer, Kursor yang Mulai Paham Konteks

Salah satu fitur paling menarik dari Googlebook adalah Magic Pointer. Secara sederhana, ini adalah kursor yang dibantu Gemini. Pengguna bisa menggoyangkan kursor, lalu Gemini akan membaca konteks dari bagian layar yang sedang ditunjuk. Dari situ, AI bisa memberi saran tindakan yang relevan.

Contohnya, ketika pengguna menunjuk tanggal di email, Gemini dapat membantu membuat jadwal meeting. Ketika pengguna memilih dua gambar, misalnya foto ruang tamu dan foto sofa baru, Gemini bisa membantu memvisualisasikan bagaimana sofa itu terlihat di ruangan tersebut. Google juga menyebut Magic Pointer dapat membantu tindakan seperti ask, compare, dan combine (Google Blog, 2026; MacRumors, 2026)

Buat pengguna umum, fitur seperti ini lebih mudah dipahami kalau dibayangkan dalam aktivitas harian. Misalnya, seorang pekerja admin menerima email dari klien berisi jadwal meeting. Biasanya, ia harus membuka Calendar, menyalin tanggal, memasukkan jam, menulis judul meeting, lalu menyimpan undangan. Dengan Magic Pointer, sebagian proses itu bisa dipersingkat karena Gemini mengenali konteks langsung dari layar.

Untuk pelajar atau mahasiswa, Magic Pointer juga bisa membantu saat mengerjakan riset. Ketika membuka beberapa referensi di browser, pengguna bisa meminta Gemini membandingkan informasi atau membantu memahami bagian tertentu tanpa harus berpindah aplikasi berkali-kali. Ini bukan berarti semua pekerjaan otomatis selesai, tetapi proses mencari, merapikan, dan menghubungkan informasi bisa terasa lebih cepat.

Namun, ada catatan penting. Android Central melaporkan bahwa Magic Pointer juga mulai tersedia di Chrome pada laptop lain, termasuk Windows dan Mac. Artinya, fitur ini mungkin tidak akan sepenuhnya eksklusif untuk Googlebook. Jika benar tersedia luas, nilai jual Googlebook tidak bisa hanya mengandalkan Magic Pointer, tetapi harus dibuktikan lewat integrasi sistem, performa, dan pengalaman penggunaan yang lebih menyatu (Android Central, 2026)

Create Your Widget, Dashboard Personal yang Dibuat Pakai Perintah Biasa

Selain Magic Pointer, Googlebook juga membawa fitur Create your Widget. Fitur ini memungkinkan pengguna membuat widget personal hanya dengan perintah bahasa natural. Pengguna cukup menjelaskan apa yang dibutuhkan, lalu Gemini dapat menyusun widget berdasarkan informasi dari aplikasi Google, seperti Gmail, Calendar, Drive, atau sumber web.

Contohnya, pengguna bisa membuat widget untuk perjalanan kerja. Widget itu dapat menampilkan jadwal penerbangan dari Gmail, reservasi hotel, agenda meeting dari Calendar, hingga daftar dokumen yang perlu dibuka dari Drive. Dalam konteks sehari-hari, ini bisa membantu orang yang sering merasa informasi penting tercecer di banyak aplikasi (Google Blog, 2026; Gadgets360, 2026)

Untuk pekerja sales, marketing, admin, mahasiswa, guru, content creator, atau pemilik usaha kecil, fitur seperti ini cukup menarik. Bayangkan laptop bisa menampilkan ringkasan aktivitas harian tanpa pengguna harus membuka banyak tab. Jadwal follow-up klien, dokumen presentasi, materi meeting, email penting, sampai catatan pekerjaan bisa dibuat lebih rapi dalam satu tampilan.

Nilai praktisnya bukan hanya soal “AI canggih”, tetapi soal mengurangi langkah kecil yang sering menyita waktu. Banyak pengguna sebenarnya tidak membutuhkan AI yang rumit. Mereka hanya butuh laptop yang bisa membantu mencari file lebih cepat, mengingatkan jadwal, menyusun informasi, dan membuat pekerjaan terasa lebih ringan.

Terhubung Lebih Dalam dengan HP Android

Daya tarik terbesar Googlebook untuk pasar Indonesia kemungkinan bukan hanya Gemini, melainkan integrasinya dengan Android. Pengguna Android di Indonesia sangat besar, sehingga laptop yang bisa bekerja lebih mulus dengan HP Android punya peluang menarik perhatian.

Google menyebut Googlebook dapat bekerja mulus dengan perangkat lain dalam hidup pengguna. Salah satu fitur yang disorot adalah akses file dari HP Android langsung melalui laptop. Ini dapat mengurangi kebutuhan transfer manual lewat kabel, aplikasi pihak ketiga, atau kirim file ke diri sendiri lewat chat. (Google Blog, 2026)

Dalam penggunaan nyata, fitur ini bisa terasa sederhana tetapi berguna. Misalnya, seorang mahasiswa mengambil foto catatan kuliah dengan HP, lalu ingin memasukkannya ke laporan di laptop. Atau seorang sales memotret produk dari toko, lalu ingin langsung memasukkannya ke presentasi. Atau content creator mengambil video pendek dengan HP, lalu ingin mengolah caption dan materi posting dari laptop. Jika integrasinya berjalan rapi, Googlebook bisa menjadi perangkat yang sangat nyaman untuk alur kerja seperti itu.

Chrome Unboxed juga menyoroti bahwa Googlebook berjalan di atas fondasi Android dan ChromeOS, sehingga aplikasi Android berpotensi berjalan lebih native dibanding pengalaman Android di Chromebook lama yang kadang terasa seperti tambahan. Ini penting karena pengalaman aplikasi yang tidak mulus bisa membuat pengguna cepat kecewa, terutama jika mereka berharap laptop bisa benar-benar menggantikan sebagian fungsi HP. (Chrome Unboxed, 2026)

Spesifikasi yang Jadi Daya Tarik, Bukan Cuma RAM dan Storage

Sampai artikel ini ditulis, Google belum membuka detail spesifikasi lengkap Googlebook. Namun, beberapa hal sudah bisa menjadi daya tarik awal. Google menyebut perangkat ini akan memakai hardware premium, hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran, serta dibuat bersama sejumlah brand besar seperti Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo (Google Blog, 2026; TechCrunch, 2026)

TechSpot melaporkan bahwa Googlebook akan menggunakan chip dari Intel, Qualcomm, dan MediaTek, serta mengikuti panduan hardware ketat dari Google agar pengalaman pengguna lebih konsisten di berbagai model. Ini menarik karena Googlebook tidak hanya datang dari satu produsen, tetapi dari ekosistem brand laptop yang sudah dikenal luas (TechSpot, 2026)

Spesifikasi yang perlu diperhatikan pembeli nanti bukan hanya prosesor, RAM, dan SSD. Karena Googlebook membawa konsep AI, kemampuan pemrosesan AI lokal atau efisiensi chip akan menjadi nilai penting. Pada laptop AI modern, komponen seperti NPU atau neural processing unit semakin sering dibahas karena bertugas menjalankan fitur AI dengan lebih efisien. ASUS Indonesia, misalnya, sudah memasarkan lini Copilot+ PC dengan prosesor Intel Core Ultra Series 3 dan AMD Ryzen AI 400 yang membawa performa NPU hingga 50 TOPS. Ini menunjukkan bahwa pasar laptop 2026 mulai bergerak ke arah AI sebagai fitur utama, bukan sekadar bonus (ASUS Indonesia, 2026)

Selain chip, layar juga akan menjadi faktor penting. Jika Googlebook benar diposisikan sebagai laptop premium, pengguna tentu akan berharap pada layar yang nyaman untuk kerja panjang, meeting online, menonton, hingga multitasking. Untuk pasar Indonesia, layar minimal Full HD sudah menjadi standar, sedangkan panel OLED, refresh rate tinggi, dan akurasi warna akan lebih menarik untuk pengguna kreatif, content creator, dan pekerja visual.

Baterai juga krusial. Laptop yang mengandalkan ekosistem cloud dan AI harus tetap hemat daya agar cocok untuk mobilitas. Pengguna yang sering kerja dari kampus, kafe, kantor, toko, atau perjalanan akan lebih peduli pada baterai tahan lama dibanding fitur AI yang jarang dipakai. Karena itu, nanti Googlebook harus membuktikan apakah integrasi Android dan Gemini bisa tetap berjalan efisien tanpa membuat baterai boros.

Harga Googlebook Belum Diumumkan, Ini Pembanding yang Masuk Akal

Google belum mengumumkan harga resmi Googlebook. Jadi, belum tepat jika menyebut perangkat ini murah, mahal, atau setara dengan seri tertentu. Namun, kita bisa melihat posisi pembandingnya dari tiga kategori: Chromebook, laptop AI Windows, dan MacBook.

Chromebook selama ini dikenal sebagai pilihan lebih terjangkau. Tom’s Guide pada 2026 menempatkan beberapa Chromebook di kisaran harga global sekitar 269 dolar AS untuk kelas budget, 399 dolar AS untuk Chromebook Plus yang lebih siap AI, sampai sekitar 649–700 dolar AS untuk model yang lebih premium. Kategori ini cocok untuk pelajar, keluarga, dan pengguna yang fokus pada browser, dokumen online, dan aplikasi Google (Tom’s Guide, 2026)

Di sisi lain, laptop AI Windows atau Copilot+ PC umumnya mulai masuk ke kelas menengah atas hingga premium. ASUS Zenbook S14 OLED di Indonesia, misalnya, dipasarkan sebagai laptop AI premium dengan bodi tipis 1,1 cm, bobot 1,2 kg, layar OLED 3K 120 Hz, baterai 77 Wh, dan harga yang tercantum di situs ASUS Indonesia mencapai Rp44.999.000 untuk konfigurasi tertentu. Ini menunjukkan bahwa laptop AI premium bisa masuk ke segmen harga tinggi, terutama jika membawa desain tipis, layar bagus, dan performa kuat (ASUS Indonesia, 2026)

Sementara itu, MacBook Air M4 13 inci di Digimap Indonesia tercatat berada di kisaran Rp15.999.000 untuk varian tertentu pada saat data laman tersebut diakses. MacBook Air sering menjadi pembanding kuat karena menawarkan performa efisien, baterai panjang, desain ringan, dan ekosistem Apple yang matang (Digimap Indonesia, 2026)

Dari perbandingan ini, Googlebook kemungkinan akan menarik jika bisa berada di antara dua dunia: lebih premium dan pintar dibanding Chromebook biasa, tetapi tetap lebih terjangkau dibanding laptop AI Windows kelas atas. Namun, jika harganya terlalu dekat dengan MacBook atau laptop Windows premium, Google harus memberi alasan yang sangat kuat agar pembeli merasa Googlebook lebih layak dipilih.

Cocok untuk Pengguna Seperti Apa?

Googlebook paling cocok untuk pengguna yang hidupnya sudah sangat dekat dengan ekosistem Google. Pengguna yang setiap hari membuka Gmail, Drive, Docs, Sheets, Slides, Calendar, Meet, Chrome, YouTube, dan HP Android akan paling mudah merasakan manfaatnya. Bagi tipe pengguna ini, Googlebook bukan sekadar laptop baru, tetapi bisa menjadi pusat kerja yang lebih menyatu dengan kebiasaan digital mereka.

Untuk pelajar dan mahasiswa, Googlebook menarik karena bisa membantu aktivitas belajar berbasis cloud. Mengerjakan tugas di Docs, menyimpan file di Drive, mencari referensi di Chrome, mengikuti kelas online di Meet, dan membuka aplikasi Android bisa dilakukan dalam ekosistem yang sama. Jika harga akhirnya kompetitif, segmen pendidikan bisa menjadi pasar yang kuat.

Untuk pekerja kantoran, sales, admin, dan marketing, Googlebook bisa berguna karena banyak pekerjaan harian bergantung pada email, dokumen, jadwal, spreadsheet, dan komunikasi digital. Fitur seperti Magic Pointer dan widget personal bisa membantu merapikan alur kerja, terutama untuk orang yang sering berpindah antara jadwal meeting, file presentasi, data klien, dan pesan masuk.

Untuk pemilik usaha kecil, Googlebook bisa menjadi perangkat kerja praktis jika integrasi Android-nya benar-benar mulus. Banyak pelaku UMKM memakai HP Android untuk foto produk, chat pelanggan, cek pesanan, dan membuat konten. Jika file dari HP bisa langsung diakses di laptop, pekerjaan seperti membuat katalog, membalas email, menyusun laporan, atau mengedit materi promosi ringan bisa lebih cepat.

Untuk content creator ringan, Googlebook bisa menarik jika aplikasi Android berjalan optimal dan performanya cukup stabil. Namun, untuk editing video berat, desain grafis profesional, rendering, atau gaming AAA, pembeli tetap perlu menunggu spesifikasi final. Sampai ada pengujian nyata, Googlebook belum bisa langsung dianggap sebagai pengganti laptop kreator kelas berat.

Siapa yang Sebaiknya Tidak Terburu-buru Menunggu Googlebook?

Pengguna yang butuh laptop sekarang untuk kerja harian, sekolah, bisnis, atau kuliah sebaiknya tidak menunggu Googlebook tanpa kepastian. Produk ini memang menarik, tetapi harga, konfigurasi, ketersediaan negara, dan performa real-life belum diumumkan lengkap. Jika kebutuhan laptop sudah mendesak, memilih laptop Windows, MacBook, atau Chromebook yang sudah tersedia tetap lebih realistis.

The Verge juga memberi catatan kritis bahwa Google perlu menjelaskan dengan lebih jelas masalah apa yang benar-benar diselesaikan Googlebook. Pasalnya, beberapa fitur AI seperti Gemini di browser atau Magic Pointer bisa saja hadir di perangkat lain. Kalau fitur unggulannya tidak eksklusif, Googlebook harus menang lewat pengalaman menyeluruh, bukan sekadar nama baru (The Verge, 2026)

Sebagian komunitas pengguna di forum teknologi juga masih skeptis terhadap komitmen Google pada produk hardware baru. Beberapa pengguna mengingat produk Google lain yang pernah dihentikan, sehingga mereka menunggu bukti dukungan jangka panjang sebelum membeli. Kritik seperti ini bukan berarti Googlebook pasti gagal, tetapi menjadi pengingat bahwa kepercayaan pengguna dibangun dari konsistensi dukungan, update, dan ekosistem aplikasi (Reddit r/laptops dan r/google, 2026).

Tren AI PC Membuat Googlebook Datang di Waktu yang Tepat

Terlepas dari kritik, Googlebook hadir di momen yang tepat. Pasar laptop sedang bergerak ke arah AI PC. Gartner memproyeksikan pengiriman AI PC global mencapai 143 juta unit pada 2026 dan mewakili sekitar 55 persen dari total pasar PC. Dengan kata lain, laptop yang punya fitur AI akan makin umum, bukan lagi produk niche untuk pengguna tertentu. (Gartner, 2025)

Namun, Gartner juga memberi catatan lain pada 2026: kenaikan biaya memori dan SSD diproyeksikan bisa menaikkan harga PC dan smartphone. Kondisi ini dapat membuat pembeli lebih selektif. Mereka tidak hanya mencari laptop paling baru, tetapi laptop yang benar-benar memberi manfaat jangka panjang. (Gartner, 2026)

Di sinilah Googlebook punya peluang sekaligus tantangan. Jika Googlebook menawarkan harga masuk akal, integrasi Android yang matang, baterai tahan lama, performa stabil, dan fitur Gemini yang benar-benar membantu, perangkat ini bisa menjadi pilihan menarik untuk pengguna produktif. Tetapi jika harganya terlalu premium tanpa keunggulan yang terasa nyata, pembeli bisa saja tetap memilih MacBook, laptop Windows AI, atau Chromebook Plus.

Nilai Jual Utama Googlebook

Nilai jual pertama Googlebook adalah integrasi Android dan laptop yang lebih natural. Ini penting untuk pengguna Indonesia yang mayoritas memakai Android. Ketika file, aplikasi, dan aktivitas HP bisa lebih mudah dilanjutkan di laptop, perangkat ini bisa terasa lebih praktis daripada laptop biasa.

Nilai jual kedua adalah Gemini yang masuk ke alur kerja harian. Bukan hanya chatbot yang dibuka di tab terpisah, tetapi AI yang muncul saat pengguna menunjuk sesuatu, membuat widget, membandingkan informasi, atau mengatur pekerjaan. Jika implementasinya mulus, Googlebook bisa membuat laptop terasa lebih personal.

Nilai jual ketiga adalah dukungan brand besar. Keterlibatan Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo membuat Googlebook punya peluang hadir dalam banyak model, ukuran, dan rentang harga. Ini penting karena pembeli laptop punya kebutuhan yang berbeda-beda: ada yang butuh ringan, ada yang butuh layar besar, ada yang butuh murah, ada yang butuh premium.

Nilai jual keempat adalah arah masa depan laptop yang lebih sederhana untuk pengguna awam. Banyak orang tidak peduli istilah teknis seperti NPU, TOPS, ARM, atau sistem operasi hybrid. Mereka hanya ingin laptop yang cepat, baterainya awet, mudah dipakai, dan nyambung dengan HP. Jika Googlebook bisa menjawab kebutuhan itu, produk ini punya peluang diterima pasar lebih luas.

Tunggu atau Beli Laptop Sekarang?

Jika kamu pengguna yang penasaran dengan teknologi baru, sudah nyaman dengan Android, dan tidak sedang buru-buru membeli laptop, Googlebook layak ditunggu sampai Google mengumumkan harga, spesifikasi final, dan ketersediaan resminya. Perangkat ini berpotensi menjadi pilihan menarik untuk produktivitas ringan sampai menengah, terutama kalau integrasi Android dan Gemini berjalan sesuai janji.

Namun, jika kamu butuh laptop untuk kerja, kuliah, sekolah, bisnis, atau produksi konten dalam waktu dekat, jangan hanya menunggu Googlebook. Saat ini sudah banyak laptop yang lebih jelas spesifikasinya, mulai dari laptop Windows produktivitas, Chromebook, MacBook Air, sampai AI PC dengan NPU. Pilihan terbaik tetap bergantung pada kebutuhan utama: mengetik dan browsing, multitasking kantor, desain, editing, gaming, atau mobilitas.

Untuk pengguna harian yang fokus pada dokumen, email, meeting online, dan browser, laptop dengan RAM minimal 8 GB dan SSD 256 GB sudah cukup sebagai titik awal. Untuk multitasking lebih nyaman, RAM 16 GB akan jauh lebih ideal. Untuk pengguna kreatif, layar berkualitas dan storage lebih besar lebih penting. Untuk pekerja mobile, bobot ringan dan baterai panjang harus diprioritaskan.

Googlebook Menarik, Tapi Jangan Terjebak Hype

Googlebook adalah sinyal bahwa laptop masa depan tidak lagi hanya bersaing lewat prosesor, RAM, storage, atau desain. Persaingan berikutnya ada pada seberapa pintar laptop membantu pengguna bekerja, berpindah perangkat, mengatur informasi, dan menyelesaikan tugas sehari-hari.

Dengan Gemini, Magic Pointer, Create your Widget, integrasi Android, dan dukungan brand besar, Googlebook punya potensi menjadi kategori laptop baru yang menarik. Untuk pasar Indonesia, daya tariknya makin kuat karena pengguna Android sangat besar dan kebiasaan kerja berbasis Google sudah sangat umum.

Namun, Googlebook tetap perlu membuktikan tiga hal: harga yang masuk akal, performa yang stabil, dan fitur AI yang benar-benar berguna. Sampai semua detail resmi diumumkan, Googlebook sebaiknya dilihat sebagai gambaran arah masa depan laptop, bukan satu-satunya perangkat yang wajib ditunggu.

Bagi pembaca yang sedang mencari laptop, hal penting dari hadirnya Googlebook adalah ini: membeli laptop sekarang tidak cukup hanya melihat spek di brosur. Pilih perangkat yang paling sesuai dengan cara kamu bekerja, aplikasi yang kamu pakai, ekosistem HP yang kamu gunakan, dan kebutuhan produktivitas jangka panjang.


Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:

Instagram: pegastore.id/instagram 

Tiktok : pegastore.id/tiktok 

Whatsapp : pegastore.id/whatsapp

Whatsapp Service : pegastore.id/service

Artikel Lainnya
ASUS ExpertBook Ultra Menjadi Laptop AI Premium Tahan Noda untuk Profesional Hybrid Berkat Nano Ceramic TechnologyASUS ExpertBook Ultra Menjadi Laptop AI Premium Tahan Noda untuk Profesional Hybrid Berkat Nano Ceramic TechnologyROG XREAL R1 Resmi Hadir, Kacamata AR Gaming yang Bikin Handheld Serasa Punya Layar 171 InciROG XREAL R1 Resmi Hadir, Kacamata AR Gaming yang Bikin Handheld Serasa Punya Layar 171 InciMSI Modern AM242 Series: Solusi PC All-in-One untuk Bisnis yang Butuh Praktis, Rapi, dan Siap PakaiMSI Modern AM242 Series: Solusi PC All-in-One untuk Bisnis yang Butuh Praktis, Rapi, dan Siap PakaiMengulik ASUS Vivobook 14, Laptop “Kebal Virus” dengan Antimicrobial GuardMengulik ASUS Vivobook 14, Laptop “Kebal Virus” dengan Antimicrobial GuardSmartwatch Bukan Lagi Sekadar Penghitung Langkah, Pantau Kesehatan Lebih Mudah dengan Huawei WATCH FIT 5 ProSmartwatch Bukan Lagi Sekadar Penghitung Langkah, Pantau Kesehatan Lebih Mudah dengan Huawei WATCH FIT 5 ProUpgrade Workspace Lebih Rapi dan Siap Tender: Kenapa MSI PRO AP242 ID Layak Dipilih?Upgrade Workspace Lebih Rapi dan Siap Tender: Kenapa MSI PRO AP242 ID Layak Dipilih?
Maskot Pegastore
loading
Pegastore icon
Live Chat