

Kamu mungkin pernah buka marketplace, cari RAM buat upgrade laptop atau PC, lalu kaget karena harganya… naik lagi. Padahal belum lama ini sempat ada masa di mana RAM terasa “terjangkau.” Tren global ternyata ikut mendorong harga naik pelan tapi pasti—dan efeknya nyampe ke Indonesia.
Fenomena ini bukan cuma soal komponen komputer. Ini efek domino dari industri teknologi global yang lagi bergejolak sejak awal 2025. Bahkan sampai kuartal pertama 2026, para analis masih memperkirakan harga RAM akan sulit turun.
Mari kita bongkar datanya, tren globalnya, dan apa artinya untuk kamu yang lagi mikir beli RAM tahun ini.
Harga RAM Global Memanas, dan Datanya Jelas
Menurut laporan terbaru dari Wccftech (2026), harga RAM di beberapa pasar utama dunia mengalami perubahan yang cukup ekstrim. Di Germany, harga DDR5 desktop RAM yang sebelumnya sempat naik tajam akhirnya stagnan selama awal 2026. Artikel tersebut menyebut tren stagnasi ini terjadi setelah kenaikan besar yang terjadi sejak paruh kedua 2025 (Wccftech, 2026).
Sementara itu, pasar Japan menunjukkan pola serupa: RAM DDR5 kapasitas besar masih bergerak naik, sedangkan RAM entry-level relatif stabil (Wccftech, 2026). Kondisi ini makin menguatkan bahwa pasar memori global belum benar-benar normal.
Yang paling mengejutkan datang dari jenis RAM laptop SO-DIMM. Wccftech (2026) mencatat kenaikan harga hingga 23% sejak Januari 2026, angka yang cukup signifikan untuk komponen yang bertahun-tahun jarang mengalami lonjakan sebesar itu.
Reuters (2025) sebelumnya sudah melaporkan bahwa kenaikan harga memori dipicu oleh kebutuhan AI server dan data center global yang melonjak sejak akhir 2024. Permintaan yang besar membuat produksi DRAM bergeser ke segmen premium, membuat RAM konsumen—baik DDR4 maupun DDR5—ikut terdorong naik harganya.
Kenapa Laptop Lebih Kena Dampaknya?
Melihat kenaikan harga SO-DIMM lebih tinggi dari RAM desktop bukan hal aneh. Modul SO-DIMM dirancang lebih kecil, lebih hemat daya, dan produksi massalnya tidak sebesar modul desktop standar. Ketika permintaan laptop meningkat—baik karena laptop kerja, kuliah, ataupun laptop AI terjangkau—permintaan SO-DIMM otomatis naik lebih cepat.
Contoh kasus yang sempat ramai di media sosial X (Februari 2026): banyak pengguna mengeluhkan upgrade RAM laptop entry-level seperti seri ThinkPad dan Aspire menjadi lebih mahal dibanding tahun sebelumnya. Salah satu pengguna bahkan menunjukkan kenaikan hampir Rp200.000 untuk modul 16GB dalam rentang tiga bulan (posting 14/02/2026).
Situasi ini persis mencerminkan data global tadi: harga naik, dan laptop jadi “korban pertama”.
Implikasinya untuk Pasar Indonesia
Indonesia masih mengandalkan impor untuk hampir seluruh jenis RAM. Itu berarti harga RAM di sini dipengaruhi tiga faktor utama: tren global, nilai tukar rupiah, dan biaya distribusi lokal.
Ketika harga global naik—meski hanya stagnan tapi tinggi—harga di Indonesia biasanya ikut terangkat.
Di sisi lain, pasar Indonesia memiliki karakter unik: pengguna laptop jumlahnya jauh lebih besar daripada perakit PC. Dampaknya, kenaikan harga SO-DIMM terasa lebih “menonjol” karena banyak orang ingin upgrade laptop yang masih pakai RAM kecil 4GB–8GB.
Laporan ISP Computer Indonesia (2025) juga menunjukkan bahwa pencarian online untuk “upgrade laptop RAM 16GB” naik 64% sepanjang 2025. Lonjakan kebutuhan inilah yang membuat kenaikan harga lebih terasa.
Kapan Harga Bisa Turun?
Kebanyakan analis industri memprediksi penurunan setelah produsen memori seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron benar-benar menyelesaikan ekspansi produksi DRAM generasi baru (data dari Tom’s Hardware, 2025). Namun proses ini tidak instan—dan kapasitas tambahan baru diperkirakan berdampak signifikan menjelang akhir 2026.
Dengan kata lain: penurunan harga dalam waktu dekat kemungkinan kecil.
Lalu, Apa Strategi Upgrade yang Masuk Akal di 2026?
Karena harga sedang tinggi, ini beberapa taktik yang lebih realistis untuk pengguna Indonesia.
Pertama, prioritaskan kapasitas ketimbang kecepatan. Untuk laptop, upgrade dari 8GB ke 16GB SO-DIMM jauh lebih terasa manfaatnya dibanding mengejar kecepatan yang lebih tinggi. Untuk PC desktop, DDR4 masih relevan untuk produktivitas dan gaming mainstream—harga modul DDR5 memang masih lebih mahal secara global.
Selain itu, pilihlah brand yang sudah terbukti konsisten performanya. Teknologi RAM jarang “tricky”; yang penting kompatibilitas dan garansi aman.
Model-model seperti RAM DDR4 3200MHz 16GB atau DDR5 5600MHz 16GB kini jadi sweet spot bagi banyak pengguna, terutama di tengah harga global yang lagi bergejolak.
Harga RAM naik bukan karena pedagang sedang “iseng”, tapi karena industri memori global memang dalam kondisi ketat. Permintaan dari dunia AI, lonjakan kebutuhan laptop, dan produksi yang terbatas membuat harga SO-DIMM dan DDR5 tetap tinggi sepanjang awal 2026.
Kabar baiknya, upgrade RAM masih menjadi peningkatan performa paling terasa—baik untuk laptop maupun PC desktop. Selama memilih kapasitas yang tepat dan tidak tergoda angka-angka marketing, kamu tetap bisa mendapatkan peningkatan performa yang signifikan meski harga sedang naik.
Perubahan tren teknologi ini selalu menarik untuk diikuti. Semakin kamu paham dinamika harganya, semakin bijak kamu mengambil keputusan upgrade di tahun 2026.
.png)
Kunjungi website Pegastore untuk info produk pegastore.id atau follow media sosial Pegastore untuk mendapat info penawaran lainnya:
Instagram: pegastore.id/instagram
Tiktok : pegastore.id/tiktok
Whatsapp : pegastore.id/whatsapp
Whatsapp Service : pegastore.id/service